my map

https://www.google.co.id/maps/@-7.5532988,110.7662994,189m/data=!3m1!1e3!4m2!5m1!1b1?hl=id

Saturday, April 14, 2007

IMPOTENSI? TIGA HARI LANGSUNG EREKSI

“Huaaaah… huaaaaaah…. huaaaaa”

suara tangis anak kecil kalo diperiksa oleh dokter…

Tidak hanya tangis…tetapi sikap pemberontakannya… bikin pyusiiiiiing dokter dan orang tua… harus pintar nyari akal untuk merayu agar tenang kalo diperiksa…

Apakah mudah?

Sulit!

Anak-anak punya logika sendiri… yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri.

Kendala mereka adalah satu tidak bisa mengekspresikan apa yang dirasakan… bisanya nangis…berontak kalo dipaksa… semakin dipaksa semakin nangis…semakin berontak….dst.

Sederhananya masalah komunikasi..

…………………………………………..

“Saya sudah memberikan tanda tangan…kok tetap ditabrak” bentak pak becak ketika diinterogasi pak polisi di suatu sore.

Kecelakaan terjadi di perempatan jalan dekat GOR Manahan Solo. Seorang pebecak ditabrak oleh sepeda motor berikut pengendaranya.

Braaak… glondaang… glondaaang… glondaaaang.

Braaak untuk bunyi benturan sepeda motor dengan becak… berakibat ban samping kanan becak lepas dan membentuk angka delapan… ketika tahu ban becak berbentuk angka delapan… banyak para kerumunan yang senyum-senyum tertawa…. Tetapi di saat yang bersamaan ada rasa iba.. kasihan yaa.

Glondaang….glondaaang…glondaaaang… karena yang diangkut pak becak adalah ibu-ibu yang jualan makanan… masih untung dagangannya habis.. sehingga loyang, panci dan piring-piring dari aluminium berjatuhan……

Pak polisi datang.

Akhirnya pak becak mengatakan seperti diatas

“Saya sudah memberikan tanda tangan…kok tetap ditabrak”

Para penonton kerumunan pada terheran-heran… kapan pak becak ngasih tanda tangan.. termasuk pak polisi yang menginterogasi…

“Tanda tangan kadhos pundi tho pak? (tanda tangan seperti apa pak?)” tanya pak polisi

“Ahh… pak polisi gimana tho…lha begini lho pak, tangan diacungkan ke arah atas dan depan itu kan namanya tanda tangan..” jelas pak becak dengan penuh semangat dan penuh keheranan melihat pak polisi yang tidak tahu masalah tanda tangan..

“haa ha ha ha ahaaa” kerumunan pada ketawa lepas..

Sekali lagi masalah komunikasi

…………………………………….

Dalam praktek kedokteran seringkali dijumpai kenyataan-kenyataan seperti di atas, sebuah pemahaman mengenai penyakit, diagnosis, terapi, dan kemungkinan-kemungkinan buruk, hanya dimengerti oleh dokter saja. Karena ilmu mengenai hal itu demikian complicated dan detail, tetapi dipersepsi secara salah oleh orang atau pasien. Akibatnya persepsi itu berbeda jauh dengan sesuatu yang dipahami oleh dokter tadi…..

Tujuan komunikasi adalah menyamakan persepsi


Persepsi orang namanya operasi mesti semua penyakit bisa sembuh karenanya… padahal kenyataannya TIDAK. Demikian juga setiap tindakan dokter, baik hanya berupa obat minum atau tindakan intevensif seperti operasi juga memiliki efek samping dan sebagian besarnya sangat tidak diharapkan….

Contoh..

Ketika masih menjadi mahasiswa dulu saya pernah menjalani operasi varicocele (riilnya seperti varises ; pembuluh darah yang melebar dan berkelok-kelok tetapi letaknya di atas testis). Sebenarnya kalau dibiarkan tidak apa-apa hanya mengganggu saat jalan jauh atau lari agak lama, tetapi kalo dibiarkan akan mengganggu kesuburan…jumlah sperma bisa kurang dari normal…berarti bisa mandul ga punya keturunan…

Terapi yang dipilih untuk itu adalah operasi PALOMO; yaitu mengikat arteri di atas testis yang menuju testis.. intinya angka keberhasilan operasi ini adalah 67% = DUA PERTIGA berarti ANGKA KEGAGALANNYA SEPERTIGA. Dapat dikatakan dari sepuluh orang yang dioperasi dengan metoda ini dipastikan TIGA DIANTARANYA MENGALAMI KEGAGALAN. Demikian juga efek samping yang ditimbulkan.

JADI DAPAT DIKATAKAN SETIAP PENGOBATAN YANG DILAKUKAN DOKTER TIDAK ADA YANG TIDAK BEBAS RESIKO..

Walopun hanya obat semacam CTM… saya pernah mendapati pasien…

“Maaf dok.. mohon saya jangan dikasih obat yang ada CTMnya..” kata pasien

“Lha kenapa tho pak?” tanyaku

“Ini pak… setelah minum CTM…selain lemes… ‘itunya’ juga ikut lemes” kata pasien

“Oo.. impotent…gara-gara CTM pak?” tanyaku

“Iya dokter..” kata pasien tadi.

“Baru bisa kembali seperti semula setelah seminggu CTM dihentikan….. “ lanjut pasien tadi.

Saya menjumpai satu pasien langka ini selama tujuh tahun praktik dokter.

KARENA ITU PERLU DIKOMUNIKASIKAN DENGAN BAIK..

Jadi seorang dokter tidak boleh mengiklankan keberhasilan pengobatannya seperti iklan pengobatan alternative yang pernah saya dengar dari iklan radio, saat merapikan rambut di POTONG RAMBUT MADURA..

“IMPOTENSI? ….TIGA HARI LANGSUNG EREKSI…”

“Opo iyoooo?” kataku

11 comments:

bagonk said...

lama gak mampir ke sini... tulisan2nya makin keren aja... tenan...! :)

Yusuf Alam Romadhon said...

buat BAgonk
makasih..telah kembali...

Qeong Ungu said...

"Tujuan komunikasi adalah menyamakan persepsi"

Saya suka dengan baris yg ini, sebuah paradigma yg mestinya diingat selalu.

Mashuri said...

#yusuf
permufakatan dokter-pasien memang bersifat "permufakatan ikhtiar" bukan "permufakatan hasil".

#qeong ungu
maaf e-mail-nya belon dibalas ya...

Yusuf Alam Romadhon said...

buat Qee
iya saya seneng juga bagian ini... bukan gambarnya lho..
buat Mashuri
setuju sekali bang, harusnya permufaktan ihtiar..

Nieke,, said...

waw,,, begitu ngelirik judul ini, saya langsung pengen baca.. hohoo.. soalnya beneran lho.. saya juga agak ga percaya sama iklan pengobatan alternatif spt itu..

sebelum ngebaca td, saya pikir om dok juga stuju dengan kalimat iklan itu. ternyata.. hehehe..

btw, saya stuju banged kalo sebenernya kesembuhan pasien itu salah satu faktornya karena pasien bisa berkomunikasi dgn baik dgn dokternya. itulah knapa saya termasuk pasien yg bawel suka cerewet pengen ini pengen itu atau nanya ini nanya itu.. kasiaaannn dokternya x)

atooo, apa malah lebih baik kencan sama dokter sendiri ya..? wah wah.. gawat.. gawat.. xP

My Alter said...

betul pak dokter....saya pikir dokter indonesa kurangnya ya itu pak dokter..kurang berkomunikasi dengan pasien...
saya punya pengalaman...ibu saya mau diradioterapi masa dokternya sama sekali tidak menerangkan efeknya...kalo ga saya tanya si dokter ga bakalan menerangkan...
sepengetahuan saya...kalo ga salah di wajibkan untuk sang dokter untuk menerangkan sejelas2nya tindakan medis apa yang sebenarnya di ambil untuk pasien ybs. Benarkah dok?

Yusuf Alam Romadhon said...

buat Nieke
seperti komennya bang Mashuri... kesepakatan berikhtiar.. perlu komunikasi yang intens...
buat My alter
memang harusnya begitu.. dan kalo seperti itu konsekuensi waktu konsultasi lebih banyak... benar pendapat jenengan (Anda)

NiLA Obsidian said...

hmmm....apa masalah komunikasi utk para dokter diajarkan pd masa sekolah menjadi dokter ?

ato kudu ikutan kursus john robert power lagi?
hehe

Yusuf Alam Romadhon said...

buat nila
komunikasi is very very very important... it right mrs Nila Obsidian

dr Budhi Sardjono said...

Suf, aku Budhi Sardjono Angk 90. Blog-mu bagus2. Alamat Emailnya dong???

Kebersamaan yang Indah Kita

Daisypath Anniversary Years Ticker

hanya bisa mengucapkan...

zwani.com myspace graphic comments