Saturday, June 23, 2007

Dokter Juga Manusia

Beberapa waktu yang lalu, teman saya seorang pengacara bercerita ada dokter senior yang baru saja ia urus surat perceraiannya. Sejenak kenyataan ini menyadarkan kembali kepada saya bahwa dokter adalah juga manusia.
Mempunyai kehidupan pribadi dan keluarga yang harus dijaga privasinya. Namun ada yang mengganjal dalam hati saya, selama saya praktek walaupun masih tujuh tahun, sudah lebih dari sepuluh kali saya menerima “curhat” dari pasien yang sedang mengalami broken home.

Mulai dari suami atau istrinya selingkuh, jarang pulang rumah, suami berjudi, anak-anak mulai ada yang menjadi peminum dan sebagainya dan sebagainya.

Dokter yang perceraiannya baru diurus oleh teman pengacara tadi adalah senior jauh di atas saya. Mestinya sudah jauh lebih banyak pasangan-pasangan dari pasien-pasiennya yang berkonsultasi mengenai masalah keluarga yang dialami.

Ternyata dia sendiri mengalami masalah yang sama dengan yang dialami oleh pasien-pasiennya.

Lalu kepada siapakah dokter-dokter berkonsultasi ketika dia mempunyai masalah pribadi?

Kepada siapakah dokter-dokter berkonsultasi ketika dia mempunyai masalah kecanduan obat? Kepada siapakah dokter-dokter berkonsultasi ketika dia mempunyai masalah dengan keluarga? Sementara orang-orang di sekitar sudah menganggap dokter berada di posisi atas, sehingga layak sebagai tempat konsultasi. Inilah ironisnya, ketika dokter mempunyai masalah pribadi atau masalah keluarga yang sangat privat, dokter kesulitan menemukan orang, tempat, serta ruang untuk menumpahkan dan mencoba mengurai segala permasalahan yang ada. Bahkan ada dokter senior yang meninggal bunuh diri karena menghadapi masalah keluarga yang sangat pelik, sementara dia sendiri diposisikan oleh lingkungannya sebagai orang yang matang secara pribadi, mental, psiko religiusnya…..

Dalam taraf tertentu, dokter dipersepsi sebagai “sosok heroik” yang serba bisa, serba ada waktu untuk menolong, “sosok malaikat” yang selalu longgar hatinya, yang selalu memberikan yang terbaik ketika diminta memberikan pertolongan dan sebagainya dan sebagainya. Padahal hati kita emosi dan moodnya naik turun, iman juga naik turun, kelonggaran dan kelapangan hati juga naik turun. Pernah be-te, bad mood, sedang sempit, habis dirundung banyak masalah……..tuntutan di luar sana terus dan terus berdatangan tanpa kenal ampun…..harus PRIMA dan SEMPURNA!

Karena itu seperti lagunya grup band Serieus, ingin kuteriakkaaaaaaaaaan …………… “rocker [DOKTER] juga manusia…… punya rasa….punya hati..!!!

Don’t take care it… sekedar ungkapan hati….

10 comments:

Astri said...

Setuju banget, kalo dokter juga manusia... Masih punya ketidaksempurnaan, masih bisa sakit, masih bisa punya masalah keluarga, masih bisa khilaf

Ady Wirawan, dr, S.Ked said...

Bener mas terkadang kita memberikan nasehat kepada pasien yang masalahnya bila kita sendiri yang menghadapi tidak bisa mengatasinya...
(OOT) Sikolor ijonya lucu banget mas aku kopi ya :D

DiN said...

Kepada siapa? Serahkan pada ahlinya.
Kalau punya masalah psikologis, masa tidak punya rekan psikolog yang bisa membantu?

mashuri said...

apa ini karena masyarakat sering over expectation thd dokter....?

Qeong Ungu said...

What's up pak? Ko nelangsa banget? ^_^

lady said...

kemaren saya lihat rumah praktek dokter bertuliskan:

"hari ini dokter libur (tutup), dokter tidak enak badan"

dokteeer jugaaa manusiaaa..
punyaa rasaa... bisa sakit...

ops... maaf pak, dah ngerock di sini :D

huda said...

Wah.. aku jg kadang2 gitu.. sok2x tegar, sok2 ngasih nasehat ke orang lain, padahal kadang2 punya masalah yg lebih pelik...

rinisuryanti said...

bener juga ya pak dokter...kalo selalu dituntut menjadi orang yang sempurna bisa stress tuh...semoga pak dokter yang satu ini ga stress yaaa...:)

Dr. G-noX MARS said...

Tul mas, dokter juga manusia...
harus tegar, sabar, santun, bertanggung jawan dll menghadapi pasien-pasien yang kadang ga ngerti kalo dokter juga manusia hahahaha...
susah na jadi dokter

.:nien:. said...

gini deh boss ...

jangan berpikir tentang stereotipe tertentu kalo emang gak pengen distreotipekan.

rasanya gak semua orang mikir begitu lah. gak usah dipikir apa pikiran orang, toh blm tentu mereka berpikir begitu.

it's only another profession, like bankers, lawyers, dll. gak ada itu namanya mendewa2kan ato mensuperherokan suatu profesi tertentu. that would be very silly kan?

kalo emang ada yang curhat, anggep aja temen lagi curhat, kadang anda perlu curhat juga kan? you don't have to look perfect in public, because nobody does!

Kebersamaan yang Indah Kita

Daisypath Anniversary Years Ticker

hanya bisa mengucapkan...

zwani.com myspace graphic comments