Tuesday, November 27, 2007

Mencari IDe GilA

Mencari ide gila tidak lantas berusaha menjadi aneh ..



atau berusaha menjadi seperti orang gila....haaa



atau sekedar bedaa..aaaaa...



tapi menghasilkan hal-hal yang kreatif...unik dan menarik.. tuh liyat hasilnya..

handphone bekas untuk tempat sabun..



atau untuk plintengan.. ato ketapel..



tetapi juga kreatif untuk menutupi kelemahan diri...

Hubungan business to business (b2b) Dokter Spesialis – Dokter Umum

Hubungan business to customer (b2c) dan business to business (b2b)

Dokter melayani pasien dan mendapatkan imbalan dari aktivitas yang dilakukan adalah hal yang lazim. Tetapi dokter melayani dokter, dalam hal ini dokter spesialis melayani dokter umum kelihatannya adalah sesuatu yang asing atau tidak lumrah. Dokter melayani pasien dan mendapatkan imbalan dari pasien, adalah suatu transaksi bisnis. Aktivitas bisnis, menurut pakar manajemen yang sudah wafat beberapa waktu yang lalu dalam usia 90 tahun lebih, Peter F Drucker, adalah suatu aktivitas yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan pelanggan. Dari sini berarti suatu aktivitas yang lebih menekankan hubungan jangka panjang. Pembeli tidak sama dengan pelanggan. Pembeli lebih bersifat sementara, sekali dan tidak diperhitungkan akan kembali lagi. Sedangkan pelanggan, dari namanya ada pengertian aktivitas berulang-ulang sehingga saling mengenal satu sama lainnya.

Hubungan dokter sebagai pelaku aktivitas bisnis, dengan pasien sebagai pelanggan atau customer dikenal sebagai aktivitas business to customer atau bahasa TI {technology information)-nya b2c. Sedangkan hubungan pelaku business yang lebih besar atau canggih kepada pelaku bisnis yang lebih kecil atau sederhana, seperti pabrik dengan pedagang eceran, atau suatu institusi, dimana volume penjualannya berskala besar dikenal dengan aktivitas business to business atau bahasa TI-nya b2b. Dalam praktik profesi dokter, terutama dokter spesialis dengan dokter umum, lebih mengarah pada hubungan b2b ketimbang b2c. Dokter spesialis mempunyai customer sendiri, dokter umum mempunyai customer sendiri pula. Tetapi ada yang khusus mengenai customer dokter spesialis, walaupun belum ada data yang pasti, dan memang idealnya demikian, yaitu sebagian besar customer dokter spesialis non gawat darurat adalah hasil rujukan dari dokter umum sebagai tenaga dokter garis depan. Walaupun pada kenyataannya banyak customer yang langsung mengambil jalan pintas berobat menuju dokter spesialis.

Di era yang hyposupply atau langkanya dokter spesialis apalagi dokter umum di zaman dulu, atau kini tetapi di daerah-daerah yang terpencil, customer datang langsung ke dokter spesialis bukan suatu masalah yang berarti. Tetapi di daerah yang hipersupply dokter spesialis terutama di daerah perkotaan, pola hubungan seperti itu akan menjadi masalah. Terlebih pada sistem pembiayaan yang melibatkan pihak ketiga seperti asuransi kesehatan misalnya. Permasalahan yang muncul bukan berasal dari persaingan dokter umum vis a vis dengan dokter spesialis. Tetapi bagaimana para dokter spesialis berlomba memperebutkan customer yang berasal dari rujukan dokter umum plus bidan terutama bagi dokter spesialis obgyn. Karena porsi customer yang berasal dari rujukan dokter umum akan meningkat, sedangkan customer yang langsung datang ke dokter spesialis akan menurun. Hambatan lain yang menurunkan jumlah cakupan customer yang datang langsung adalah hambatan tarif. Tarif dokter spesialis yang lebih mahal ketimbang dokter umum akan menurunkan minat customer langsung.

Bagi dokter spesialis mana yang penting b2b atau b2c?

Dengan melihat peliknya permasalahan yang ada, terlebih lagi mulai ada kecenderungan sebagian masyarakat dan rumah sakit yang menggandrungi praktik dokter spesialis luar negeri untuk praktik di rumah sakit domestik, akan membuat banyak dokter spesialis terutama yang lulusan baru berpikir ulang, strategi apa yang bisa ia terapkan untuk meningkatkan cakupan customer. Bila membuat kebijakan menurunkan tarif, maka bisa jadi akan mendapatkan semacam “hukuman” dari sejawat spesialis yang sama, misalnya dianggap tidak menghargai profesi. Maka salah satu jalan yang relatif sedikit hambatan adalah meningkatkan porsi b2b-nya dengan meningkatkan kualitas hubungan dengan kolega mereka yang dokter umum. Meningkatkan kualitas hubungan tidak berarti disalah tafsirkan memberikan uang komisi atas rujukan yang telah diberikan. Ini adalah budaya yang buruk dan tidak mendidik. Meningkatkan kualitas hubungan dapat ditafsirkan dengan meningkatkan jumlah forum-forum sharing pengalaman, skill dan pengetahuan antara dokter spesialis dengan dokter umum dalam suatu wilayah tertentu misalnya.

Dokter umum adalah customer bisnis, karena mereka itu mempunyai bisnis juga, yang menginginkan peningkatan jumlah cakupan pasien atau customer yang dapat dilayani. Mereka, para dokter umum, juga dituntut mempertahankan reputasinya. Jangan sampai para dokter umum ini turun reputasinya gara-gara tidak tahu betul reputasi dokter spesialis yang mereka rujuk. Atau minimal ada perasaan tidak enak bila ada kesempatan bertemu dengan pasien atau keluarga yang dirujuk, bila ada sesuatu yang tidak dinginkan dalam penanganan rujukan tersebut oleh dokter spesialis. Ibaratnya dokter umum tidak ingin seperti kata peribahasa “beli kucing dalam karung”. Dokter umum inilah yang memberikan garansi kepada keluarga pasien mengenai kualitas dokter spesialis yang akan dituju oleh pasien untuk menyelesaikan masalah yang mereka alami.

Dokter spesialis, di satu sisi, juga ingin mempertahankan reputasinya. Untuk meningkatkan angka keberhasilan tertangani suatu kasus, dokter spesialis ini mempunyai kepentingan jangan sampai banyak kasus yang dirujuk dokter umum adalah kasus terlambat merujuk atau penanganan buruk sebelum dirujuk yang seharusnya dapat dihindari. Karena itu dokter spesialis ini sangat berkepentingan membina dokter umum yang ada dalam satu jaringan dengannya.

Dari sini dapat dilihat customer dari jalur b2b mempunyai andil yang tidak dapat diremehkan oleh bisnis dokter spesialis. Pada kenyataannya, banyak dokter spesialis yang menempuh potong jalur, membuat publik atau konstituennya dekat dengan dirinya, tanpa diimbangi pembinaan pada customer dari jalur b2b. Akibatnya sering ditimpa rasa frustrasi, karena sering mendapati kasus-kasus rujukan terlambat atau tertangani secara buruk sebelum dirujuk yang sebenarnya dapat dihindari. Lebih parah lagi, dampak yang diakibatkan tidak saja pada diri sendiri akibat frustrasi, tetapi menanamkan kesan pada masyarakat, banyak pasien yang berobat ke dokter spesialis A meninggal atau cacat. Padahal kalau mau jujur, sebenarnya yang “berdosa” adalah dokter umum atau bidan yang memberikan rujukan yang sudah dalam keadaan terlambat atau penanganan buruk sebelum dirujuk, dan ini dapat dihindari apabila dokter spesialis yang bersangkutan aktif membina hubungan baik, berbagi pengalaman, pengetahuan dan skill dengan para aktor yang merujuk di garis pertama pelayanan kesehatan.

Langkah berimbang dalam membangun jaringan b2b dan b2c

Idealnya harus membentuk jaringan dokter spesialis, dokter umum, dan paramedis-paramedis yang terkait keahliannya dengan dokter spesialis tersebut. Dengan terbentuk jaringan, maka perencanaan pelayanan, controlling, dan pengelolaan lebih mudah. Karena jaringan terbangun oleh ikatan emosional, dengan meminjam istilah Raymond Martin, penulis buku the tomorrow people, simpul-simpul dimana mereka ini bisa berkomunikasi secara rileks tanpa ketegangan. Kedua, dengan jaringan yang terbentuk, akan timbul rasa memiliki. Bila rasa memiliki sudah terbentuk, maka akan timbul rasa tanggung jawab untuk memberikan umpan balik untuk meningkatkan kualitas jaringan tersebut. Masing-masing orang dalam jaringan tersebut, akan terdorong kuat pula untuk meningkatkan kualitas diri.
Jaringan ini tidak harus diformalkan menjadi sebuah lembaga. Masih bisa dipertahankan kemandirian orang-orang yang ada di dalamnya. Pola-pola inilah yang membesarkan keiretsu-keiretsu di Jepang, sebagaimana dalam kutipan berikut:

Perekonomian Jepang, menurut Francis Fukuyama, sangat kental sekali pengaruh dari Keiretsu-keiretsu. Keiretsu-keiretsu ini adalah suatu sistem jaringan usaha yang saling melindungi satu sama lain dan sangat besar. Satu Keiretsu bisa terdiri dari sekitar 30-an perusahaan.
Karakteristik kedua adalah meskipun ukuran mereka sangat besar, tetapi masing-masing perusahaan anggota keiretsu antara pasar jarang menduduki posisi monopoli berkaitan dengan sektor tunggal dari ekonomi Jepang. Namun masing-masing keiretsu direpresentasikan oleh pesaing oligopolistik tunggal dalam setiap sektor pasar, dalam sektor demi sektor. Oleh karenanya, Mitsubishi Heavy Industries, Sumitomo Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries [salah satu anggota dari kelompok Dai-Ichi Kangyo] bersaing satu sama lain dalam bidang manufaktur berat dan pertahanan, sementara Mitsubishi Bank, Sumitomo Bank, dan Dai-Ichi Bank bersaing satu sama lain dalam bidang keuangan.
Karakteristik ketiga para anggota jaringan tersebut cenderung berdagang satu sama lain atas dasar kesukaan, bahkan ketika hal itu tidak memiliki arti ekonomi yang jelas. Para anggota Keiretsu tidak berdagang secara eksklusif satu sama lain, malah mereka cenderung berdagang lebih banyak dengan anggota-anggota kelompok yang lain ketimbang dengan perusahaan-perusahaan luar, seringkali dengan membayar harga lebih tinggi atau menerima barang-barang dengan jumlah sedikit ketimbang yang sebenarnya berlaku dalam transaksi pasar murni. Bentuk hubungan perdagangan preferensial lain mengambil bentuk utang dengan bunga di bawah tingkat pasar (below-market-rate loans) dari lembaga keuangan pusat jaringan untuk perusahaan anggota, yang akibatnya memunculkan subsidi.
Karakteristik terakhir, tingkat keakraban di antara para mitra keiretsu acapkali sangat besar dan mencerminkan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Makna tanggung jawab timbal balik yang dibebankan diantara anggota keiretsu diilustrasikan dalam kasus terkenal Toyo Kogyo, pembuat otomotif (yang juga dikenal sebagai Mazda Motors) yang menghadapi ancaman kebangkrutan pada tahun 1974 ketika penjualan mobil-mobil bermesin-rotarinya merosot akibat krisis minyak. Toyo Kogyo adalah anggota dari keiretsu Sumitomo, dengan chief bank kelompok tersebut, Sumitomo Trust, adalah pemberi utang dan pemilik saham terbesar dalam perusahaan tersebut. Sumitomo Trust memprakarsai reorganisasi Toyo Kogyo, yang mengendalikan tujuh direktur dan memaksanya untuk mengadopsi teknik-teknik produksi baru. Para anggota keiretsu yang lain memindahkan penjualan mobil mereka ke Mazda, para pemasok suku cadang menurunkan harga, dan para pemberi pinjaman menyediakan kredit yang penting. Sebagai hasilnya Mazda bertahan tanpa harus bubar, meskipun manajemen dan para pekerja harus rela bonus mereka dikurangi. Chrysler perusahaan amerika, mengalami kesulitan serius beberapa tahun kemudian, tidak bisa mengandalkan para pemberi utang dan para pemasok untuk menolongnya, dan bahkan harus berpaling ke pemerintah AS. Kasus Mazda, pada saat itu, benar-benar memberikan contoh mengenai pengorbanan yang dilakukan oleh para anggota keiretsu demi kepentingan satu sama lain.


Inilah harapannya hubungan dokter spesialis dengan dokter umum, bukan sekedar tempat rujukan atau bahkan lebih buruk “saingan” dalam memperebutkan perhatian pasien atau pelanggan. Masing-masing mempunyai porsi sendiri-sendiri sesuai dengnan wewenang dan kompetensinya dan saling menahan dan menjaga diri, dan berkomunikasi secara intensif, informal dalam sebuah ikatan jaringan. Inilah setidaknya satu alternatif jawaban bagi-bagi dokter-dokter kita dalam menghadapi banjirnya serbuan dokter-dokter asing dalam “lahan” kita di tanah air saat ini dan di masa yang akan datang.
Wallahua’lam

Wednesday, November 21, 2007

Beratnya Amanah Sebagai Dokter


Mendapatkan amanah profesi dokter adalah amanah yang berat, tetapi dalam wujud yang lebih banyak kemudahannya. Seorang dokter Obgyn pria, mendapatkan kepercayaan penuh bahkan dari sang suami wanita yang memeriksakan kesehatan kandungannya, untuk dapat melihat aurat wanita tersebut seluruhnya. Bisa saja dengan dalih agar pemeriksaan lebih jelas, tangan sang dokter obgyn pria ini usil meraba vagina wanita tersebut tanpa indikasi yang jelas, toh pasien dan suaminya tidak tahu. Bahkan di akhir sesi pemeriksaan mereka mengucapkan terima kasih dan bahkan menanyakan ”kapan bisa periksa lagi dok?” serta menanyakan ”berapa dok biaya pemeriksaannya?”

Atau misalnya pada kasus seorang dokter bedah yang melakukan operasi appendectomy. Sebenarnya orang normal pun kalau dilakukan operasi appendectomy tidak memberikan perubahan pada kondisi fisiologis orang normal tersebut. Bisa saja dokter bedah ini, memberikan informasi yang sengaja dikelirukan, sehingga orang normal ini mau menjalani operasi appendectomy, dan hasil akhirnya, menambah pundi-pundi keuangan dokter bedah yang bersangkutan.

Atau di kasus lain, seorang dokter penyakit dalam atau bahkan dokter umum, hobinya meresepi hampir semua penderita yang berobat kepadanya dengan obat-obatan dari perusahaan farmasi tertentu yang telah berkomitmen memberikan insentif keuangan. Sehingga perusahaan pesawat terbang yang dinaiki dokter tersebut ketika bepergian bukanlah ”Garuda Airways” atau ”Lion Air” atau ”Sriwijaya Air”, tetapi berubah menjadi ”Pfizer Air”, ”Kalbe Air” atau ”Sanbe Air”.

Belum lagi, tekanan masalah yang lebih memudahkan dokter jatuh pada bahaya moral (moral hazard) di atas adalah tekanan biaya ekonomi kehidupan zaman sekarang. Dokter mempunyai keluarga yang harus dihidupi, harus bisa menjamin terpenuhinya kebutuhan kesehatan dan pendidikan bermutu bagi keluarga dokter, harus bisa mengembalikan ”modal finansial” yang digunakan selama mengikuti pendidikan dokter yang kecenderungannya makin mahal. Dan tekanan besar lainnya adalah tekanan malu bila praktik dokter tidak laku. Gambar 1 menunjukkan peta masalah perjalanan karier praktik Anda sebagai dokter.


Kalau disarikan permasalahan yang ada kira-kira seperti berikut:

1. Jumlah lulusan dokter umum/spesialis semakin banyak dengan distribusi “menggerombol” di sekitar perkotaan, walaupun rasio dokter dibandingkan dengan populasi penduduk masih jauh di bawah standar

2. Pengetahuan dan kesadaran pasien akan kesehatan dan hukum semakin besar sehingga resiko tuntutan malpraktik semakin tinggi

3. Dokter sudah terlanjur dipersepsi sebagai golongan masyarakat yang kaya, dan ini banyak sudah diinternalisasi oleh dokternya sendiri. Akibatnya dokter akan sangat malu minimal minder, kalau dirinya tidak kaya. Berbagai cara akan ditempuh salah satunya sudah menjadi rahasia umum dokter berkolusi dengan perusahaan farmasi.

4. Sebagian masyarakat kita, terutama mereka yang terdidik, kaya atau minimum golongan menengah, mempersepsi dokter Indonesia kualitasnya dibawah kualitas dokter di negara lain seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Australia maupun India. Sehingga mereka yang kaya tidak akan berobat ke dokter Indonesia, tetapi ke negara-negara itu, di samping akan meningkatkan prestigenya.

Saturday, November 17, 2007

Sebuah perjalanan



Aku hanyalah
seorang hamba...
seorang yang telah ditakdirkan..
seorang yang telah diberikan kebebasan...
seorang yang hanya bisa berdoa ketika tidak berdaya...
seorang yang hanya berusaha...



berusaha... terbang tinggi...
aku tidak tahu... batas paling tinggi yang bisa aku raih...
aku tidak tahu kemana
aku tidak tahu dimana
aku tidak tahu kapan
Perjalanan ini berakhir...
aku hanya bisa berusaha...
terbang tinggi... menembus batas impianku...

Namun.....
Batasilah...
hasrat diri yang meluap-luap..
hasrat diri pada gemerlap dunia...
hasrat diri pada kemewahan...
hasrat diri pada kenyamanan...
hasrat diri untuk terus dan terus terbang...



biarkan sejenak...
kesejukan menyiram kegarangan..
ketentraman mendinginkan ambisi...
diam mengistirahatkan gerak...
tidur merilekskan ketegangan....

berilah kesempatan...
ketenangan...
kesejukan...
kedamaian...

merasuki pori-pori jiwa yang merangas panas..
merasuki ruang-ruang hati yang terjerembab pengap
merasuki kamar-kamar kosong kekecewaan
merasuki celah-celah hati yang penuh putus asa..
merasuki rongga-rongga hampa jiwa...



agar diri ini dapat bercermin..
agar diri ini dapat mengukur...
agar diri ini dapat menilai...
agar diri ini dapat menata diri..

bangkit penuh ketegaran jiwa..
bangkit memenuhi panggilan-Mu
bangkit penuhi kewajiban-kewajibanku sebagai hamba-Mu
bangkit penuhi amanat-amanat-Mu yang berat..
agar jiwa ini segar dari keletihan yang menjerat..

ya Illaahi Robbi...
Aku rindu...
berjumpa dengan keharibaanMu
bantulah diri ini
tuk selalu dapat
kembali pada-Mu
dalam ridho-Mu

Wahai jiwa-jiwa yang tenang... kembalilah pada keridho-an Tuhanmu
masuklah engkau sebagai hamba-Ku
masuklah engkau dalam surga-Ku
Yaa ayyiatuhannafsul muthmainnah.. irji'i ilaa rodhiyatamardhiyah
fadhulii fii ibadi
fadhuli fii jannati

Contoh Kasus Hipotetik Malpraktik

Kasus 1

Kasa tertinggal berakibat osteomielitis

Mas Parjo datang ke Rumah Sakit Remen Waras karena fraktur di tulang femur. Dokter Ndang Sun Tiken SpB menangani kasus ini adalah dokter bedah satu-satunya di kota Sarwo Saras. Parjo dijadwalkan operasi, dengan melalui prosedur-prosedur rutin rumah sakit, informed concent telah ditanda tangani oleh Parjo sendiri. Parjo sangat sadar dengan apa yang ia tanda tangani. Sebelum mengoperasi Parjo pada jam 10.00, dr. Ndang Sun Tiken sudah melakukan tiga operasi elektif satu operasi cito. Malam harinya dr. Ndang Sun Tiken mengoperasi dua operasi cito. Operasi reposisi Parjo telah berhasil dengan baik, dari foto rontgen pasca operasi, pen telah menancap pada tempat yang benar, kelurusan tulang telah sesuai dengan yang diharapkan. Parjo setelah recovery dan perawatan di bangsal yang memadai akhirnya bisa dipulangkan. Belum ada seminggu, di tempat luka operasi, setiap saat selalu keluar nanah, hingga membuat pembalut luka selalu diganti.

Parjo bermaksud kontrol lagi ke Rumah Sakit Remen Waras, tetapi ia mendapati antrian begitu panjang, dan sudah menunggu mulai dari jam 8.00 hingga 11.00 dokter Ndang Sun Tiken tidak kunjung datang. Berkali-kali ia bertanya kepada perawat poliklinik, selalu saja jawabannya masih melakukan operasi. Karena tidak nyaman dengan apa yang dialaminya, serta tidak enak dengan pandangan-pandangan orang di sekitar yang tampaknya jijik melihat kondisi pahanya. Parjo dan keluarga memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke rumah sakit Arto Wedi yang letaknya ratusan kilometer dari rumah tinggalnya.

Masuk rumah sakit arto wedi, dengan biaya yang lebih tinggi, Parjo langsung diperiksa oleh dokter Hangabehi SpBO. FICS. Ahli ortopedi yang sudah terkenal hingga jauh di luar daerah. Oleh dokter Hangabehi, Parjo segera dilakukan prosedur rutin, roentgen ulang dan segera dijadwalkan operasi. Kembali dilakukan prosedur rutin, termasuk informed concent telah ditanda tangani dan Parjo sadar betul dengan apa yang dilakukannya. Secara umum kondisi Parjo menjelang operasi baik. Hanya dari luka operasi sebelumnya saja yang terus menerus mengalir nanah.

Akhirnya operasi debridement untuk mengatasi pus yang terus-menerus mengalir dari tulang yang didiagnosis mengalami osteomielitis dilakukan. Selama debridement dilakukan betapa mengejutkan yang dihadapi tim operasi dokter Hangabehi…. Mereka menemukan kassa tertinggal di tulang yang telah direposisi. Masih syukur tulang mau menyatu.

Keluarga pasien ingin mengetahui mengapa terjadi “bencana” demikian pada Parjo. Dengan terpaksa dokter Hangabehi SpBO FICS menjelaskan ini semua karena adanya kasa yang tertinggal di ruang antara tulang dan otot. Mendengar penjelasan itu kontan keluarga Parjo marah dan tidak terima dengan kinerja dokter Ndang Sun Tiken beserta timnya. Mereka sepakat untuk melakukan somasi dengan melayangkan surat dugaan malpraktik kepada dokter Ndang Sun Tiken beserta direktur Rumah Sakit Remen Waras lewat kuasa hukum mereka Gawe Ribut SH. Mereka menuntut ganti rugi senilai 1 miliar rupiah atas kerugian materiil dan imateriil yang dialami.

……………………………………………………..

Analisa hal yang terjadi

Yang ditimpa masalah adalah Rumah Sakit Remen Waras. Sedangkan rumah sakit Arto Wedi tidak dalam posisi bermasalah. Rumah Sakit Arto Wedi dalam posisi “penemu” kesalahan yang dilakukan oleh Rumah Sakit Remen Waras.

Dalam kasus ini diasumsikan tidak ada masalah administrasi pada dokter-dokter yang berpraktik baik di Rumah Sakit Remen Waras maupun Rumah Sakit Arto Wedi.

Jadi tidak ada kasus perbuatan melanggar hukum. Permasalahannya adalah operasi yang dilakukan oleh dokter Ndang Sun Tiken terdapat bukti kelalaian yaitu kasa tertinggal di ruang antara otot dan tulang. Berdasarkan criteria 4 D jelas memenuhi criteria tersebut. Ada wan prestasi (D1 & D2 ; duty dan dereliction of duty) yang dilakukan oleh dokter Ndang Sun Tiken SpB; sudah ada kontrak hubungan terapetik dan ada bukti melalaikan kewajiban yaitu kasa tertinggal.. Juga terdapat “damage” yaitu adanya osteomielitis dan akibat osteomielitis ini berkaitan dengan tertinggalnya kasa yang berada di ruang antara otot dan tulang.

skenario penyelesaian masalah etikolegalnya

Pembuktian

ü Pembuktian yang dilakukan yaitu laporan operasi dokter Hangabehi SpBO yang menyebutkan kasa tertinggal

ü Pembuktian laporan operasi dari dokter Ndang Sun Tiken SpB

Bukti yang meringankan

ü Dokter Ndang Sun Tiken SpB, sudah mengajukan penambahan dokter bedah di Kabupaten Sarwo Saras karena dia merasa sudah overload secara tertulis kepada direktur. Dan direktur RS juga menindak lanjutinya dengan pengajuan penambahan dokter bedah ke Departemen Kesehatan pusat dua tahun yang lalu, dan hingga kasus Parjo muncul ke permukaan belum terpenuhi permintaan tersebut.

Berikut juga merupakan contoh kasus malpraktik, memenuhi kriterian 4 D, dan ternyata penyebab kelalaian bukan pada dokter ataupun perawat dalam tim operasi tetapi, di luar dugaan pada sistem logistik.

Kasus 2

Gas Medik Yang Tertukar [1]

Seorang pasien menjalani suatu pembedahan di sebuah kamar operasi. Sebagaimana layaknya, sebelum pembedahan dilakukan anestesi terlebih dahulu. Pembiusan dilakukan oleh dokter anestesi, sedangkan operasinya dipimpin oleh dokter ahli bedah tulang (ortopedi).

Operasi berjalan lancar. Namun, tiba-tiba sang pasien mengalami kesulitan bernafas. Bahkan setelah operasi selesai dilakukan, pasien tetap mengalami gangguan pernapasan hingga tidak sadarkan diri. Akibatnya, ia harus dirawat terus menerus di perawatan intnsif dengan bantuan mesin pernapasan (ventilator). Tentu kejadian ini sangat mengherankan. Pasalnya, sebelum dilakukan operasi, pasien dalam keadaan baik, kecuali masalah tulangnya.

Usut punya usut, ternyata kedapatan bahwa ada kekeliruan pada pemasangan gas anestesi (N2O) yang dipasang pada mesin anestesi. Harusnya gas N2O, ternyata yang diberikan gas CO2. Padahal gas CO2 dipakai untuk operasi katarak. Pemberian CO2 pada pasien tentu mengakibatkan tertekannya pusat-pusat pernapasan (respiratory distress) sehingga proses oksigenasi menjadi sangat terganggu, pasien menjadi tidak sadar dan akhirnya meninggal. Ini sebuah fakta penyimpangan ”sederhana”, namun berakibat fatal.

Dengan kata lain, ada sebuah kegagalan dalam proses penempatan gas anestesi. Dan ternyata, di rumah sakit tersebut tidak ada standar-standar (SOP) pengamanan pemakaian gas yang dipasang di mesin anestesi. Padahal harusnya ada standar, siapa yang harus memasang, bagaimana caranya, bagaimana monitoringnya, dan lain sebagainya. Idealnya dan sudah menjadi keharusan bahwa perlu ada sebuah standar yang tertulis (misalnya warna tabung gas yang berbeda), jelas, dengan formulir yang memuat berbagai prosedur tiap kali harus ditandai (cross) dan ditandatangani. Seandainya, prosedur ini ada, tentu tidak akan ada, atau kecil kemungkinan terjadinya kekeliruan. Dan kalaupun terjadi, akan cepat diketahui siapa yang bertanggung jawab.

Karena itulah, aturan-aturan dan SOP ini sangat penting, yang termasuk dalam PDRS (peraturan dasar rumah sakit) atau PD Medik (peraturan dasar medik / Hospital by Laws & Medical by Laws) dan dapat dipakai untuk pertimbangan-pertimbangan dalam memutuskan perkara karena Hospital by Laws dapat merupakan ”perpanjangan tangan hukum”.



[1] Health and Hospital, Oktober 2006 hal 50

Malpraktik atau Malpraktek

Pengertian Malpraktik

Makna harfiah = praktik buruk lawannya praktik baik.

Black’s Law Dictionary[1] :

Any professional misconduct or unreasonable lack of skill or fidelity in professional or fiduciary duties, evil practice or illegal or immoral conduct

Pengelompokan malpraktik :

a. Gatra etikolegal malpraktik ; perilaku tidak etis/tidak bermoral atau perilaku menyimpang atau perilaku melanggar kewajiban hukum atau praktik jahat profesi dokter.

b. Gatra ilmiah (yang sering dikonotasikan “gatra profesi”) malpraktik kedokteran yakni kekurang-terampilan secara tak layak / tak pantas seorang dokter. Dalam hal ini secara teknis medis kemampuan dokter kurang memadai.

Wanprestasi (Ingkar Janji) [2],[3]

Sebetulnya wanprestasi atau ingkar janji dalam hubungan kontraktual antara dokter dan pasien dapat dilakukan oleh masing-masing pihak. Pasien dapat menggugat dokter jika ternyata dokter tidak dapat melaksanakan kewajibannya dan sebaliknya dokter dapat menggugat pasien jika ternyata pasien tidak melaksanakan kewajibannya. Gugatan harus berdasarkan atas kerugian yang terjadi, baik materiil maupun immateriil sebagai akibat tidak dilaksanakannya sesuatu kewajiban oleh pihak lain.

Khusus gugatan kepada dokter yang melakukan wanprestasi atau lebih dikenal dengan malpraktik, maka gugatan itu dibenarkan jika memenuhi syarat 4 D: Penyatuan istilah Malpraktik dengan Kelalaian Medik

Kelalaian Medik terdapat 4 kriteria “4D” yang secara kumulatif semuanya harus terbukti untuk menjatuhkan sanksi dokter harus membayar ganti rugi kepada pasien/keluarganya dalam forum pengadilan. Ke 4 D tersebut adalah sebagai berikut :

1. Duty of care by the doctor to the injured patient (kewajiban) = D1, dokter yang digugat memang mempunyai kewajiban (duty) sebagai akibat adanya hubungan kontraktual.

2. Dereliction of duty (pelanggaran kewajiban) = D2, adanya wanprestasi atau melalaikan kewajiban (dereliction of duty).

3. Damage (kompensasi kerugian) yang foreseeable (laik bayang sebelumnya) = D3, terjadi kerugian (damage atau compensable injury).

4. Direct cause (sebab langsung) yakni pelanggaran kewajiban mengakibatkan kerugian (D2 ------- D3) = D4, adanya hubungan langsung antara kerugian itu dengan kelalaian melaksanakan kewajiban (direct causation).

Pengertian malpraktik medik menurut WMA (World Medical Associations)

Involves the physician’s failure to conform to the standard of care for treatment of the patient’s condition, or a lack of skill, or negligence in providing care to the patient, which is the direct cause of an injury to the patient

Jenis Malpraktik dalam Hukum[4]

Criminal Malpractice

Masuk kategori ini, bila memenuhi rumusan delik pidana. Pertama, perbuatan tersebut (baik positf maupun negatif) harus merupakan perbuatan tercela (actus reus). Kedua, dilakukan dengan sikap batin yang salah (mens rea); yaitu berupa kesengajaan (intensional), kecerobohan (recklessness) atau kealpaan (negligence).

1. Contoh kasus intensional

o Melakukan aborsi tanpa indikasi medik

o Melakukan euthanasia

o Membocorkan rahasia kedokteran

o Tidak melakukan pertolongan terhadap seseorang yang sedang dalam keadaan emergensi meskipun tahu tidak ada dokter lain yang akan menolongnya (negative act).

o Menerbitkan surat keterangan yang tidak benar.

o Membuat visum et repertum yang tidak benar.

o Memberikan keterangan yang tidak benar di sidang pengadilan dalam kapasitasnya sebagai ahli.

2. Contoh kasus recklessness

o Melakukan tindakan medis yang tidak sesuai prosedur (legeartis).

o Melakukan tindakan medis tanpa informed consent.

3. Contoh kasus negligence

o Alpa atau kurang hari-hati sehingga meninggalkan gunting dalam perut pasien.

o Alpa atau kurang hati-hati sehingga pasien menderita luka-luka (termasuk cacat) atau meninggal dunia.

Pada criminal malpractice, tanggung jawabnya selalu bersifat individual (bukan korporasi) dan personal (hanya pada yang melakukan). Oleh sebab itu tidak dapat dialihkan kepada orang lain atau kepada rumah sakit.

Civil Malpractice

Jika dokter tidak melaksanakan kewajibannya (ingkar janji), yaitu tidak memberikan prestasinya sebagaimana yang telah disepakati.

Cotohnya, seorang dokter ahli kandungan sepakat menolong sendiri persalinan seorang wanita sesuai keinginan wanita tersebut di suatu rumah sakit swasta. Mengingat pembukaan jalan lahir baru mencapai satu sentimeter, maka dokter meninggalkannya untuk suatu keperluan yang diperkirakan tidak lama. Ketika dokter itu kembali di tempat ternyata pasien telah melahirkan dalam keadaan selamat dengan dibantu oleh dokter lain. Dalam kasus seperti ini dokter dapat digugat atas dasar civil malpractice untuk membayar ganti rugi immaterial, yaitu perasaan cemas selama menunggu kedatangan dokter yang sangat dipercayainya.

Dikategorikan sebagai civil malpractice karena :

1. Tidak melakukan (negative act) apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan

2. Melakukan (positive act) apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat.

3. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna.

4. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukannya.

Pada civil malpractice, tanggung gugat (liability) dapat bersifat individual atau korporasi. Selain itu dapat pula dialihkan kepada pihak lain berdasarkan principle of vicarious liability (respondeat superior, borrowed servant). Dengan ini maka rumah sakit dapat bertanggung gugat atas kesalahan yang dilakukan oleh dokter-dokternya (sub ordinatnya), asalkan dapat dibuktikan bahwa tindakan dokter itu dalam rangka melaksanakan kewajiban rumah sakit.

Administrative Malpractice

Dikatakan Administrative Malpractice bila dokter melanggar hukum tata usaha negara. Perlu diketahui bahwa dalam rangka melaksanakan police power (the power of state to protect the health, safety, morals and general welfare of its citizen) yang menjadi kewenangannya, pemerintah berhak mengeluarkan berbagai macam peraturan di bidang kesehatan, seperti tentang persyaratan bagi tenaga kesehatan untuk menjalankan profesi medik, batas kewenangan serta kewajibannya. Apabila aturan tersebut dilanggar maka tenaga kesehatan yang bersangkutan dapaat dipersalahkan.

Contoh yang dapat dikategorikan sebagai adminsitrative malpractice antara lain :

o Menjalankan praktik kedokteran tanpa lisensi atau izin.

o Menjalankan tindakan medik yang tidak sesuai lisensi atau izin yang dimiliki.

o Melakukan praktik kedokteran dengan menggunakan lisensi atau izin yang sudah kedaluwarsa.

o Tidak membuat rekam medik.

Pembuktian Malpraktik[5]

Criminal Malpractice

Pembuktian berdasarkan atas dipenuhi tidaknya unsur pidananya, sehingga tergantung dari jenis dari criminal malpractice yang dituduhkan. Dalam hal dokter dituduh melakukan kealpaan sehingga pasien yang ditangani meninggal dunia, menderita luka berat atau luka sedang maka yang harus dibuktikan adalah adanya unsur perbuatan tercela (salah) yang dilakukan dengan sikap batin berupa alpa atau kurang hati-hati (kurang praduga).

Civil Malpractice

Pembuktiannya melalui dua cara :

1. Cara langsung

Yaitu membuktikan ke empat unsurnya (4D) secara langsung ; yang terdiri atas unsur kewajiban (duty), menelantarkan kewajiban (dereliction of duty), rusaknya kesehatan (damage) dan adanya hubungan langsung antara tindakan menelantarkan dengan rusaknya kesehatan (direct causation).

Kewajiban dokter timbul jika secara afirmatif menerima suatu tanggung jawab untuk melakukan tindakan medik melalui hubungan kontraktual (a contract basis), baik yang dibuat atas beban atau dengan Cuma-Cuma (gratuitous service). Kedua, jika berdasarkan ketentuan yang ada wajib melakukan tindakan medis (a tort basis). Menelantarkan kewajiban terbukti jika dokter melakukan tindakan medik yang kualitasnya di bawah standar yaitu suatu tindakan yang mutunya tidak menggambarkan telah diterapkannya ilmu, keterampilan, perhatian dan pertimbangan yang layak sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan dokter dengan keahlian yang sama ketika menghadapi situasi dan kondisi yang sama pula. Untuk membuktikan ini diperlukan kesaksian ahli dari dokter yang sama keahliannya dengan dokter yang sedang diadili.

Rusaknya kesehatan terbukti jika pasien meninggal dunia, cacat, lumpuh, mengalami luka berat atau luka sedang. Jika pasien meninggal dunia perlu dilakukan otopsi dan bila masih hidup perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter lain yang akan bertindak sebagai saksi ahli.

Sedangkan hubungan langsung terbukti jika ada hubungan kausalitas antara rusaknya kesehatan dengan tindakan dokter yang kualitasnya di bawah standar. Untuk membuktikan ini juga diperlukan kesaksian ahli.

2. Cara tak langsung

Cara ini adalah yang paling mudah yaitu dengan mencari fakta-fakta yang berdasarkan doktrin Res Ipsa Loquitor (the thing speaks for itself) dapat membuktikan adanya kesalahan di pihak dokter. Namun tidak semua kelalaian dokter meninggalkan fakta semacam itu. Doktrin Res Ipsa Loquitor ini sebetulnya merupakan varian dari ’doctrine of common knowledge” hanya saja di sini masih diperlukan sedikit bantuan kesaksian dari ahli untuk menguji apakah fakta yang ditemukan memang dapat dijadikan bukti adanya kelalaian dokter.

Perlu diketahui bahwa doktrin Res Ipsa Loquitor hanya dapat diterangkan jika fakta yang ditemukan memenuhi kriteria berikut :

o Fakta tidak mungkin terjadi jika dokter tidak lalai.

o Fakta yang terjadi memang berada di bawah tanggung jawab dokter.

o Pasien tidak ikut menyumbang timbulnya fakta itu atau dengan kata lain tidak ada contributory negligence.

Jika misalnya ada gunting atau tang tertinggal dalam perut pasien yang menjalani operasi, maka gunting atau tang itu berdasarkan doktrin Res Ipsa Loquitor, dapat dijadikan fakta yang secara tidak langsung dapat membuktikan kesalahan dokter, mengingat :

o Gunting atau tang itu tak mungkin tertinggal kalau tidak ada kelalaian.

o Gunting atau tang yang tertinggal itu berada di bawah tanggung jawab dokter.

o Pasien dalam keadaan terbius sehingga tidak mungkin dapat memberikan andil terhadap tertinggalnya alat-alat tersebut.


[1] Budi Sampurna, Zulhasmar Syamsu, Tjetjep Dwijdja Siswaja, Bioetik dan Hukum Kedokteran, Pengantar bagi Mahasiswa Kedokteran dan Hukum, Penerbit Pustaka Dwipar, Oktober 2005

[2] Budi Sampurna, Program Non Gelar Blok II FKUI Juni 2007, Sistem Peradilan dan Pembuktian Malpraktik

[3] Sofwan Dahlan, 2003, Hukum Kesehatan Rambu-rambu bagi Profesi Dokter, Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang hal 37

[4] Sofwan Dahlan, 2005, Hukum Kesehatan Rambu-rambu bagi Profesi Dokter, Balai Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.

[5] Sofwan Dahlan, 2005, Hukum Kesehatan Rambu-rambu bagi Profesi Dokter, Balai Penerbit Universitas Diponegoro Semarang.

Hubungan Kolegial Dokter

Dalam praktik sehari-hari dokter berhubungan dengan kolega profesi lain. Ada yang levelnya lebih tinggi dalam hal ini pihak manajemen seperti pihak manajemen rumah sakit yang sering kali bukanlah dokter, tetapi punya skill dan keahlian dalam manajerial dan keuangan. Atau yang sejajar, seperti sejawat spesialis, atau apoteker. Demikian juga dengan kolega di level bawahnya seperti perawat, okupasi terapis, fisioterapis dan juga pekerja seperti office boy dan pekarya. Ketiga level itu juga sangat berpengaruh terhadap kinerja dokter. Pihak manajemen yang terlalu berorientasi pada kinerja keuangan, akan membuat dokter dalam tekanan untuk menghasilkan keuntungan yang diinginkan manajemen, dengan banyak mengorbankan aspek etis dan hukum ketika melakukan praktik. Demikian juga dokter yang ”dipaksa ikut” perusahaan farmasi untuk ”melunakkan” tekanan pasar atau tekanan para pemilik modal, membuat profesi farmacist dalam posisi yang sangat lemah. ”Dipaksa” oleh perusahaan farmasi yang berkolaborasi dengan dokter sebagai tempat penyedia obat yang dimaksud dalam ”kolaborasi” itu. Seperti yang diungkap dalam ungkapan berikut[1] :

....”Selama ini kami seakan-akan hanya menjadi tukang penyimpan dan penyalur obat,”

.....Bahkan, dia menyebut, produk-produk Sanbe yang menjadi favorit para dokter di Yogyakarta, tidak satu pun masuk dalam buku Indonesian Index of Medical Specialities. Anehnya, produk yang tidak tercatat itu justru dikenal baik oleh dokter dan mendapat citra baik,”......

Mengenai hubungan dengan perawat, Lichtenstein, mengatakan faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dokter terhadap perawat sebagai rekan sekerja adalah : 1) tenaga perawat cakap dan terampil, 2) perawat harus mampu menyelesaikan tugas-tugas yang didelegasikan oleh dokter dengan baik, dan 3) perawat harus mampu menyelesaikan tugas rutin klinis seperti mengukur tekanan darah, mengukur suhu, dan lain-lain. Sementara itu, Seybolt dan Walker, mengatakan bahwa sikap perawat yang mampu dan mengerti apa yang seharusnya dikerjakan dan mengerjakannya tidak dalam keadaan terpaksa merupakan elemen kunci untuk membina hubungan dengan dokter. Jika hubungan tersebut berjalan dengan baik akan membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien sehingga pada akhirnya akan menimbulkan kepuasan terhadap pekerjaan yang dilakukan.[2]



[1] Majalah SWA 14/XXIII/28 Juni – 11 Juli 2007 hal 58 - 59

[2] Bina Ampera Bukit, Laksono Trisnantoro, Andreasta Melasta; 2003, Kepuasan Dokter Spesialis di Rumah Sakit Umum Daerah Manna Kabupaten Bengkulu Selatan dengan Pendekatan EMIC; Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol 06,/No.04/2003 hal 183 – 191

Friday, November 9, 2007

Resiko Human Genetic Engineering

SAat ini manusia mulai utak utik .... pinter ngatur... kreasi dirinya lewat utak-utik blue print dirinya alias rekayasa genetika atau biasa disebut genetic engineering.. postingan kali ini sekedar menunjukkin kira-kira bagaimana hasil utak-utik kreasi diri tersebut..

maaf bukan yang ini.... kalo yang ini asli diriku sebelum gundul... (NARSIS BANGED!!!!)



YAng dimaksud ini nihhh....



atau seperti ini...



meski begitu juga... kemungkinan-kemungkinan hasi utak-utik pada makhluk lain



juga... kucing pun jadi mania ato kecanduan minum kopi... tuh liyat hasilnya matanya ga ngantuk sama sekali..



Harapan terbesar... adalah selalu awet muda walopun sudah lanjut usia...
maksudnya......

Pasien membawa resep dokter lain

Alinea 1

Dokter Hendro, tempat praktiknya walaupun masih dalam satu kecamatan, jaraknya terpaut hanya 4 km dari tempat praktik dokter Pujo. Dalam hal senioritas dokter Hendro adalah yunior dokter Pujo. Namun demikian keduanya selalu membina hubungan baik, terbukti tidak ada konflik diantara mereka berdua, dan keduanya sama-sama menjabat pengurus IDI di kabupaten. Dokter Pujo adalah ketua sedangkan dokter Hendro menjabat sebagai sekretaris.

Alinea 2

Hingga datanglah bu Erna dengan anaknya….

“Dokter Hendro, sebenarnya pagi ini saya sudah memeriksakan Evi anak saya ini ke tempat praktik dokter Pujo…saya datang mendapatkan nomor urut yang ke tiga. Saya mendengar dari sesama yang antre, katanya dokter Pujo itu kalo ngasih obat dosis tinggi. Meski demikian saya tetap mengikuti antrean dan tetap bersedia kalau Evi diperiksa dokter Pujo.” Kata bu Erna.

“Sudah dapat resep?” tanya dokter Hendro.

“Sudah dokter” jawab bu Erna.

“Terus?” tanya dokter Hendro.

“Karena ada berita semacam itu, saya tidak yakin dokter, makanya saya datang ke sini… ini dokter, resep dari dokter Pujo…” kata bu Erna sambil menyerahkan resep dari dokter Pujo.

“Sebentar bu, maksud ibu, anak Evi mau diperiksakan ke saya?” tanya dokter Hendro.

“Iya, mohon dokter untuk bersedia memeriksa Evi sekaligus memberikan resepnya…. Sama mau nanya apa benar…resep dokter Pujo itu termasuk dosis tinggi dokter? Kata bu Erna.

……………………………………………..

Alinea 3

Akhirnya dokter Hendro, memeriksa anak Evi dan menyimpulkan diagnosis untuk anak Evi adalah Infeksi saluran pernafasan akut dengan disertai gastritis.

“Kok resep dokter Pujo belum dibaca dokte?” tanya bu Erna.

“O..iya” kata dokter Hendro

………………………………………………..

Alinea 4

Betapa terkejutnya dengan kombinasi obat yang diberikan oleh dokter Pujo.

Anak Evi, umur 3 tahun, berat badan 15 kg

R/ Amoxicilin 150 mg

Thiamphenicol 150 mg

Narfoz ¼ tab

Metoclopropamid ¼ tab

Mfla pulv dtd no XX

S 3 dd pulv 1

R/ Intunal syr no I

S 3 dd C 1¼

R/ Antacid syr no I

S 3 dd C 1¼

……………………………………………..

Alinea 5

Dalam benak dokter Hendro kombinasi antibiotic amoxicillin dengan thiamfenicol terlalu berlebihan, termasuk juga kombinasi metoclopropamid dengan narfoz terus masih ditambah dengan antacid untuk mengatasi rasa mual dan kembung juga berlebihan. Termasuk dalam hal biaya. Tetapi bagaimana cara mengomunikasikan keadaan ini kepada pasien? Kalau seandainya ia mengatakan yang sebenarnya, apa yang dikatakannya sampai juga ke telinga dokter Pujo. Apa yang dia katakan akan menjadi hujah atau dalil untuk membenarkan berita bahwa dokter Pujo kalau memberikan obat dosis tinggi. Berarti akan mengganggu hubungan harmonis yang sudah terjalin antara dia dengan dokter Pujo. Tetapi bagaimana cara mengatakannya ya?

……………………………………………….

Alinea 6

“Begini ya bu Erna… setiap dokter pasti mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri dalam memberikan apa yang terbaik buat pasien-pasiennya. Saya sudah menuliskan resep yang menurut saya terbaik untuk anak ibu” kata dokter Hendro.

“Oo begitu ya dokter…setiap dokter pasti mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri. Apa tidak ada standar dalam mengobati pasien?” tanya bu Erna

“Standar itu adalah rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar bu” kata dokter Hendro.

“Ya sudah dokter…tampaknya masih banyak antrean yang menunggu di luar. Berapa dokter..saya harus bayar?” tanya bu Erna.

………………………………………..


Daftar Kaidah Dasar Bioetika yang dihadapi pada kasus pasien membawa resep yang terlalu berlebihan, seperti kasus dokter Hendro.

1. Beneficence : dokter memberikan yang terbaik bagi pasien. Dokter berusaha menerapkan Golden Rule Principle. Dokter berusaha meminimalisir akibat buruk bagi pasien. Dan menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia.

2. Non maleficence : dalam pandangan dokter Hendro atau kita yang mendapati resep teman sejawat yang memberikan obat terlalu berlebihan atau bahkan kombinasi yang membahayakan, maka bila mengganti resep yang lebih aman dan tidak berlebihan à non maleficence; berusaha memberikan obat secara proporsional, berusaha memberikan manfaat yang lebih besar berhadapan dengan resiko dokter Hendro atau kita berhadapan dengan terancamnya hubungan baik sesame teman sejawat.

3. Autonomi : kita memberikan penjelasan mengapa kita memberikan resep yang berbeda (secara diplomatis) sebisa mungkin tanpa mengurangi wibawa teman sejawat kita di mata pasien.

4. Justice : dalam kasus ini menghargai hak sehat pasien. Pasien berusaha memeroleh kesehatannya. Kalau kita tidak mengoreksi resep yang “salah” dan kita menganggap akan menambah sakitnya pasien, maka kita akan berada dalam posisi mengabaikan hak mendapatkan sehat bagi pasien. Tidak memerlakukan sama dengan pasien lain yang sama-sama memeriksakan diri ke dokter Hendro (kita yang dimintai tolong pasien yang membawa resep dokter lain).

Kemungkinan PRIMA FACIE yang terjadi

Kebutuhan menerapkan kaidah beneficence, non maleficence dan justice LEBIH DIUTAMAKAN ketimbang autonomi pasien yang berusaha ingin mendapatkan alasan rasional mengapa kita mengganti resep teman sejawat yang kita pandang berlebihan, menambah kesakitan bahkan malah membahayakan jiwa pasien.

Dari sudut pandang MEDICAL INDICATIONS (beneficence & non maleficence):

Bahwa resep yang kita ketahui ada obat yang berlebihan, interaksi obat yang saling melemahkan bahkan membahayakan, maka secara medis ada indikasi yang bisa membenarkan bahwa memberikan resep baru yang kita buat dapat menghindarkan pasien dari keadaan yang membahayakan.

Dari sudut pandang PATIENT PREFERENCES (autonomi):

Secara mental dan secara hukum pasien ini (ibu pasien) capable. Serta kondisi yang dihadapi adalah bukan kegawatan. Jadi secara mendasar harus memperhatikan autonomi ibu pasien. Sedangkan pasien sendiri karena anak-anak, relative bisa diabaikan autonominya.

Karena membawa resep dari dokter lain yang kebetulan kita kenal dekat dengan dokter itu, maka kemungkinan besar ibu pasien menyangsikan keputusan medis yang dibuat teman sejawat. Artinya pasien tidak dapat bekerja sama dengan dokter sebelumnya. Di sini kita juga menghargai hak pasien untuk memilih dokter mana yang merawat dirinya.

Walaupun akhirnya kita juga mengetahui ada peresepan yang tidak rasional dan membahayakan.

Permasalahan yang timbul dari hubungan kita dengan pasien ini ketika mengatakan yang sebenarnya akan mempengaruhi hubungan kita dengan teman sejawat yang sebelumnya pernah mendapatkan konsultasi dari pasien.

Mengatakan yang sebenarnya sebenarnya adalah HAK pasien untuk mendapatkan informasi yang benar. HAK untuk memperoleh kesehatannya.

Dalam hubungan dokter – pasien tidak ada dilemma. Tetapi dilemma muncul ketika memerhatikan hubungan sesama teman sejawat.

Dari sudut pandang QUALITY OF LIFE (prinsip beneficence dan non maleficence dengan memperhatikan autonomi)

Memberikan pengertian mengapa kita memberikan resep yang berbeda dengan teman sejawat, (autonomi) dengan alasan kemanfaatan yang rasional (beneficence) dan memperhatikan dampak jangka panjang pengobatan yang tidak berakibat membahayakan (non maleficence) dan sebisa mungkin memilih kata-kata yang tidak berdampak menjatuhkan kewibawaan teman sejawat.

Kita memilih obat yang berbeda dengan alasan efektifitas dan tidak menimbulkan efek samping yang berarti dan berdampak pada menurunnya kualitas hidup penderita.

Dari sudut pandang CONTEXTUAL FEATURES (Kondisi yang mendasari)

Bagian yang sangat diperhatikan disini adalah :

o Pemilihan obat yang rasional à berdampak pada efektivitas dan efisiensi pengobatan à berdampak pada aspek financial.

o Kehati-hatian dalam mengungkapkan perbedaan (walaupun sebenarnya kesalahan teman sejawat dalam memberikan pengobatan yang tidak rasional) dengan bahasa yang netral seperti :

“…setiap dokter pasti mempunyai pertimbangan sendiri-sendiri dalam memberikan apa yang terbaik buat pasien-pasiennya. Saya sudah menuliskan resep yang menurut saya terbaik…. Dan ini berbeda dengan pertimbangan dengan teman sejawat saya…”

o Ketidak hati-hatian dalam berkata atau mengomunikasikan pada ibu pasien bisa berdampak

v Secara hukum… ucapan kita dijadikan hujah untuk menyerang teman sejawat.

v Atau dijadikan hujah untuk membenarkan isu yang selama ini terjadi misalnya dokter A selalu memberikan obat dosis tinggi. Kalau sampai nama kita disebut dengan jelas… membuat hubungan dengan sesama teman sejawat akan berdampak sangat buruk. (menebarkan isu membuat persaingan tidak sehat)

Kaidah Dasar Etika/Bioetika (Kedokteran Barat)

Kaidah dasar (prinsip) Etika / Bioetik adalah aksioma yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-prinsip itu harus spesifik. Pada praktiknya, satu prinsip dapat dibersamakan dengan prinsip yang lain. Tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain. Keadaan terakhir disebut dengan prima facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada 4 kaidah dasar moral (sering disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika), juga prima facie dalam penerapan praktiknya secara skematis dalam gambar berikut : [1] [2] [3]

Oval: Prima Facie ‘ilat yang sesuaibeneficence

Autonomy

Non maleficence

Justice

Gambar. empat kaidah dasar etika dalam praktik kedokteran, dengan prima facie sebagai judge; penentu kaidah dasar mana yang dipilih ketika berada dalam konteks tertentu (‘ilat) yang relevan.

a. Menghormati martabat manusia (respect for person/autonomy). Menghormati martabat manusia. Pertama, setiap individu (pasien) harus diperlakukan sebagai manusia yang memiliki otonomi (hak untuk menentukan nasib diri sendiri), dan kedua, setiap manusia yang otonominya berkurang atau hilang perlu mendapatkan perlindungan.

· Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni : kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan, paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau self-legislation dari manusia.

· Pandangan J. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran = otonomi individu, yakni kemampuan melakukan pemikiran dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang pribadi.

· Menghendaki, menyetujui, membenarkan, mendukung, membela, membiarkan pasien demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk bermartabat).

· Didewa-dewakan di Anglo-American yang individualismenya tinggi.

· Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth, hormatilah hak privasi liyan, lindungi informasi konfidensial, mintalah consent untuk intervensi diri pasien; bila ditanya, bantulah membuat keputusan penting.

· Erat terkait dengan doktrin informed-consent, kompetensi (termasuk untuk kepentingan peradilan), penggunaan teknologi baru, dampak yang dimaksudkan (intended) atau dampak tak laik-bayang (foreseen effects), letting die.

b. Berbuat baik (beneficence). Selain menghormati martabat manusia, dokter juga harus mengusahakan agar pasien yang dirawatnya terjaga keadaan kesehatannya (patient welfare). Pengertian ”berbuat baik” diartikan bersikap ramah atau menolong, lebih dari sekedar memenuhi kewajiban.

Tindakan berbuat baik (beneficence)

  • General beneficence :
    • melindungi & mempertahankan hak yang lain
    • mencegah terjadi kerugian pada yang lain,
    • menghilangkan kondisi penyebab kerugian pada yang lain,
  • Specific beneficence :
    • menolong orang cacat,
    • menyelamatkan orang dari bahaya.

· Mengutamakan kepentingan pasien

· Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah sakit/pihak lain

· Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya > akibat-buruk)

· Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada, pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya” (apalagi ada yg hidup).

c. Tidak berbuat yang merugikan (non-maleficence). Praktik Kedokteran haruslah memilih pengobatan yang paling kecil risikonya dan paling besar manfaatnya. Pernyataan kuno: first, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti.

· Sisi komplementer beneficence dari sudut pandang pasien, seperti :

· Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat derita (harm) pasien

· Minimalisasi akibat buruk

· Kewajiban dokter untuk menganut ini berdasarkan hal-hal :

- Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau berisiko hilangnya sesuatu yang penting

- Dokter sanggup mencegah bahaya atau kehilangan tersebut

- Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif

- Manfaat bagi pasien > kerugian dokter (hanya mengalami risiko minimal).

· Norma tunggal, isinya larangan.

d. Keadilan (justice). Perbedaan kedudukan sosial, tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan, kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan jender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap pasiennya. Tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien yang menjadi perhatian utama dokter.

· Treat similar cases in a similar way = justice within morality.

· Memberi perlakuan sama untuk setiap orang (keadilan sebagai fairness) yakni :

a. Memberi sumbangan relatif sama terhadap kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka (kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan pasien yang memerlukan/membahagiakannya)

b. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur dengan kemampuan mereka (kesamaan beban sesuai dengan kemampuan pasien).

  • Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap pasien sebagai mahluk berakal budi (bermartabat), khususnya : yang-hak dan yang-baik

· Jenis keadilan :

a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan penerima)

b. Distributif (membagi sumber) : kebajikan membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban bersama, dengan cara rata/merata, sesuai keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmani-rohani; secara material kepada :

· Setiap orang andil yang sama

· Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya

· Setiap orang sesuai upayanya.

· Setiap orang sesuai kontribusinya

· Setiap orang sesuai jasanya

· Setiap orang sesuai bursa pasar bebas

c. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bersama :

· Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik dengan strategi menekankan efisiensi social dan memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien.

· Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social – ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil substantif/materiil).

· Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas tertentu

· Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap individu rasional (sering menerapkan criteria material kebutuhan dan kesamaan).

d. Hukum (umum) :

· Tukar menukar : kebajikan memberikan / mengembalikan hak-hak kepada yang berhak.

· pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan umum.

Prima Facie : dalam kondisi atau konteks tertentu, seorang dokter harus melakukan pemilihan 1 kaidah dasar etik ter-”absah” sesuai konteksnya berdasarkan data atau situasi konkrit terabsah (dalam bahasa fiqh ’ilat yang sesuai). Inilah yang disebut pemilihan berdasarkan asas prima facie.[4]

Norma dalam etika kedokteran (EK) :

· Merupakan norma moral yang hirarkinya lebih tinggi dari norma hukum dan norma sopan santun (pergaulan)

· Fakta fundamental hidup bersusila :

Etika mewajibkan dokter secara mutlak, namun sekaligus tidak memaksa. Jadi dokter tetap bebas,. Bisa menaati atau masa bodoh. Bila melanggar : insan kamil (kesadaran moral = suara hati)nya akan menegur sehingga timbul rasa bersalah, menyesal, tidak tenang.

Sifat Etika Kedokteran :

  1. Etika khusus (tidak sepenuhnya sama dengan etika umum)
  2. Etika sosial (kewajiban terhadap manusia lain / pasien).
  3. Etika individual (kewajiban terhadap diri sendiri = selfimposed, zelfoplegging)
  4. Etika normatif (mengacu ke deontologis, kewajiban ke arah norma-norma yang seringkali mendasar dan mengandung 4 sisi kewajiban = gesinnung yakni diri sendiri, umum, teman sejawat dan pasien/klien & masyarakat khusus lainnya)
  5. Etika profesi (biasa):

· bagian etika sosial tentang kewajiban & tanggungjawab profesi

· bagian etika khusus yang mempertanyakan nilai-nilai, norma-norma/kewajiban-kewajiban dan keutamaan-keutamaan moral

· Sebagian isinya dilindungi hukum, misal hak kebebasan untuk menyimpan rahasia pasien/rahasia jabatan (verschoningsrecht)

· Hanya bisa dirumuskan berdasarkan pengetahuan & pengalaman profesi kedokteran.

· Untuk menjawab masalah yang dihadapi (bukan etika apriori); karena telah berabad-abad, yang-baik & yang-buruk tadi dituangkan dalam kode etik (sebagai kumpulan norma atau moralitas profesi)

· Isi : 2 norma pokok :

· sikap bertanggungjawab atas hasil pekerjaan dan dampak praktek profesi bagi orang lain;

· bersikap adil dan menghormati Hak Asasi Manusia (HAM).

  1. Etika profesi luhur/mulia :

Isi : 2 norma etika profesi biasa ditambah dengan :

· Bebas pamrih (kepentingan pribadi dokter < style="">

· Ada idealisme : tekad untuk mempertahankan cita-cita luhur/etos profesi = l’esprit de corpse pour officium nobile

7. Ruang lingkup kesadaran etis : prihatin terhadap krisis moral akibat pengaruh teknologisasi dan komersialisasi dunia kedokteran.



[1] KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA PENYELENGGARAAN PRAKTIK KEDOKTERAN YANG BAIK DI INDONESIA 2006

[2] Agus Purwadianto, Segi Kontekstual Pemilihan Prima Facie Kasus Dilemma Etik dan Penyelesaian Kasus Konkrit Etik, dalam bahan bacaan Program Non Gelar Blok II FKUI Juni 2007

[3] Professor Omar Hasan Kasule; September 2007; Filosofi Dalam Etika Kedokteran : Studi Banding Antara Sudut Pandang Islam dan Barat (Eropa); Seminar dan Lokakarya Implementasi Nilai-nilai Islam di dalam Pendidikan Kedokteran di Indonesia 8 – 9 September 2007

[4] Agus Purwadianto, Segi Kontekstual Pemilihan Prima Facie Kasus Dilemma Etik dan Penyelesaian Kasus Konkrit Etik, dalam bahan bacaan Program Non Gelar Blok II FKUI Juni 2007

Kebersamaan yang Indah Kita

Daisypath Anniversary Years Ticker

hanya bisa mengucapkan...

zwani.com myspace graphic comments