my map

https://www.google.co.id/maps/@-7.5532988,110.7662994,189m/data=!3m1!1e3!4m2!5m1!1b1?hl=id
Showing posts with label My history. Show all posts
Showing posts with label My history. Show all posts

Thursday, March 26, 2009

Mengenang 11 tahun lulus jadi dokter umum

Menjadi seorang dokter merupakan sebuah karunia tersendiri yang amat luar biasa buat saya. Betapa tidak, untuk menjadi mahasiswa kedokteran saja, harus ada usaha keras plus keberuntungan takdir dari-Nya. Banyak teman-teman saya SMA atau di bimbingan belajar yang prestasi belajar jauh di atas saya, mereka tidak diterima. Namun, Allah SWT telah memilih memberikan amanah yang demikian besar itu kepada saya, sebagai salah seorang dari sekian miliar manusia di dunia ini sebagai anggota komunitas profesi dokter.

Setelah lulus, menjadi dokter, walaupun saat saya lulus, ternyata untuk bisa “survive” tidak semudah membalikkan telapak tangan [bagi orang sehat ya, tetapi bukan untuk penderita stroke]. Tetapi adanya keahlian profesional sebagai dokter membuat saya relatif mudah dalam mencari sumber penghidupan. Karena ada keahlian profesional yang bisa saya jual.

Dalam berinteraksi dengan masyarakat, relatif mudah saya bisa masuk dalam berbagai jenis komunitas masyarakat, dengan relatif sedikit hambatan yang ditemui ketika berinteraksi dengan mereka. Dalam suatu perkumpulan, entah dalam arisan RT, pertemuan bapak-bapak atau pertemuan ibu-ibu, ketika memperkenalkan diri sebagai dokter, maka saya merasa lebih mudah mendapatkan respek yang baik, yang terwujud dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai masalah-masalah kesehatan yang mereka hadapi tersebut kepada saya. Seringkali, secara spontan, diminta menjadi pembicara mengenai penyuluhan kesehatan, dan sebagainya dan sebagainya.

Ketika, membuka praktek, karena interaksi yang relatif intens tersebut, lebih mudah “menggiring” konsumen/pelanggan, yang notabene datang dalam keadaan sakit menuju ruang praktek. Pakar pemasaran menyebut apa yang saya lakukan dengan membuka ruang komunikasi melalui forum-forum komunikasi tersebut, disebut dengan marketing public relations. Dampak “baiknya” adalah seperti yang saya katakan tadi lebih mudah “menggiring” konsumen/pelanggan datang ke tempat praktek. Dampak “tidak baiknya” adalah masyarakat atau lebih tepatnya “konstituen saya” akibat kontak yang intens, menjawab semua pertanyaan, bersikap sopan, tidak membeda-bedakan orang, semua disalami dan disapa dengan baik membuat saya dipersepsi oleh “konstituen” sebagai “sosok heroik” yang serba bisa, serba ada waktu untuk menolong, “sosok malaikat” yang selalu longgar hatinya, yang selalu memberikan yang terbaik ketika diminta memberikan pertolongan dan sebagainya dan sebagainya. Karena itu seperti lagunya grup band Serieus, ingin Kuteriakkan pada mereka “rocker [DOKTER] juga manusia…… punya rasa….punya hati..!!!

Walopun lulus tahun 1998, saya mulai praktek tahun 2000, setelah menjadi dokter PTT, dengan tempat praktek adalah sekaligus tempat tinggal. Selama menunggu itu saya jaga di Poliklinik 24 jam di Solo yang gajinya Rp.5000 per 8 jam dengan tambahan Rp. 1000,- per pasien. Dan menjadi dokter jaga di UGD RSJ dengan gaji Rp. 50.000 per 8 jam, dan jaga di Poliklinik 24 jam di Klaten selama 3 x 24 jam seminggu x 4 dalam sebulan dengan gaji Rp. 400 ribu. plus nyambi jualan sabun susu.... halllah Capek deh jadi dokter ya.

Kembali ke cerita tempat praktik, ada kelebihan dan kekurangan memilih tempat praktek sekaligus tempat tinggal. Kelebihannya, lebih irit biaya, karena sama-sama kontrak dan bukan properti milik sendiri. Kelebihan kedua, waktu untuk keluarga dan tetangga lebih banyak, karena tidak usah pergi jauh menuju tempat praktek. Kelebihan ketiga, lebih hemat tenaga dan waktu, karena tidak usah repot-repot mempersiapkan diri, menata jadwal penuh untuk pergi ke tempat praktek.

Sedangkan kekurangannya adalah, pertama, pasien terutama tetangga dari satu desa, merasa dokter stand by di rumah, sehingga sewaktu-waktu mereka dapat “menggedor” pintu untuk meminta pertolongan, walaupun dalam plakat praktek terpampang praktek jam sekian sampai sekian. Memang saya menyadari, nama sakit muncul setiap saat, tidak bisa direncanakan, dan harus segera minta pertolongan. Kedua, harus mengeluarkan energi psikis yang luar biasa, untuk mengatasi suasana hati yang kadang longgar kadang sempit, dalam menghadapi tuntutan melayani dengan jam “sewaktu-waktu”. Ketiga, keluarga menyiapkan diri untuk memberikan “korban perasaan” tidak dipercayai atau dicurigai berbohong, ketika saya benar-benar tidak ada di rumah pada saat mereka meminta pertolongan. Pernah suatu ketika ketika saya mudik sendirian ke kampung halaman untuk menjenguk bapak ibu, ada pasien yang periksa. Mendengar jawaban dari istri saya bahwa saya sedang pulang kampung, pasien tidak percaya dengan jawaban yang disampaikan istri saya. Ia menunggu, dan bahkan mencoba melongok-longok ke dalam rumah tidak percaya dan mengira saya bersembunyi di dalam rumah. Keempat, siap menerima hukuman ketika hati atau mood sedang tidak longgar atau sedang keletihan hebat, sehingga tidak memberikan pelayanan. Untuk yang terakhir ini, ada pengalaman yang luar biasa. Suatu ketika ada seorang pasien pria, umur 80-an tahun, mempunyai kebiasaan seperti yang ada dalam buku ini, yaitu mandi setahun sekali pada bulan syura/muharam, untuk memenuhi syarat mistiknya. Beliau itu rajin datang tiap dua hari atau tiga hari sekali meminta suntik, agar tetap segar, dan berlangsung lebih dari dua tahun. Sudah berkali-kali saya dan istri menganjurkan kepadanya agar melepaskan jimat dan syarat mistiknya yang mandi setahun sekali itu bahkan dengan sedikit mengancam, saya tidak akan memberikan obat kepadanya, sebelum dia mandi. Begitu kukuhnya keyakinan tersebut, sampai-sampai dia pernah berkata, “lebih baik saya mati, dari pada disuruh mandi”. Sebenarnya sakit-sakitannya dia itu dari sudut pandang agama Islam adalah akibat keterikatannya dengan makhluk halus Jin dan sebangsanya, yang mengganggu keikhlasan saat-saat sakaratul maut menjelang. Suatu ketika hampir tengah malam, pukul 11.30-an, beliau datang kesakitan, pada waktu itu saya benar-benar letih dan kurang istirahat, serta sudah tertidur. Karena pintu pagar “digedor” dan terdengar “erangan” saya dan istri terbangun. Keletihan dan kurang istirahat, membuat kami menahan diri tidak membukakan pintu, karena takut akan tidak memberikan pelayanan yang prima, bahkan bisa-bisa memarahi pasien. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar getaran keras pada kaca-kaca rumah kami. Getaran keras pada kaca-kaca rumah, belakangan saya ketahui konon katanya tenung atau santet yang gagal masuk.

Apa yang saya alami, tidaklah sebanding dengan yang dialami teman-teman sejawat yang berada di daerah-daerah terpencil. Bahkan ada seorang teman sejawat yang bercerita harus berjalan menyusuri hutan dan sepatu dilepas berbecek-becek jalan di atas genangan air dan sungai, untuk mencapai rumah seorang penderita yang tidak mampu berjalan. Kakak saya sendiri yang menjadi dokter PTT di Bengkulu mendapatkan daerah yang susah mendapatkan air bersih. Air sumur di rumah dinas, baru diambil 2 – 3 ember sudah keruh dan tidak bening lagi. Belum lagi, tidak banyak mendapatkan uang cash, pasien yang berobat mengganti ongkos obat dengan memberikan seekor ayam jantan. Menurut adat istiadat setempat bahwa seseorang akan mendapatkan suatu penghormatan tertinggi bila mendapatkan ayam jantan. Maka ketika bapak dan ibu berkunjung ke tempat kakak mendapati bagian belakang rumah layaknya seorang peternak ayam, tetapi semuanya ayam jago. Dalam kondisi yang demikian, gaji dokter PTT sampai ke tangan setiap enam bulan sekali. Jadi selama gaji belum keluar semua biaya hidup ditanggung dari tabungan pribadi.

Dokter ketika saya baru masuk kuliah nasibnya tidak seperti dokter-dokter jaman dulu. Kalau dulu dokter yang baru lulus, pasti menjadi pegawai negeri, menjadi dokter kepala dinas kesehatan kabupaten pada awalnya, serta belakangan menjadi dokter kepala puskesmas. Ketika saya baru kuliah, tidak ada lagi dokter langsung menjadi pegawai negeri sipil. Pengangkatan pegawai negeri sipil berdasarkan sebanyak jumlah dokter yang pensiun. Jadilah dokter menjadi pegawai tidak tetap [PTT], seringkali di-peleset-kan dokter pegawai tiga tahun, karena masa kontraknya adalah tiga tahun. Saat ini jumlah dokter jauh lebih melimpah ketimbang dulu, bahkan hingga tulisan ini disusun, jumlah fakultas atau program studi kedokteran atau institusi penyelenggara pendidikan dokter se-Indonesia berjumlah 48 institusi dan ada kecenderungan terus bertambah. Ini dapat diartikan produksi dokter setiap tahunnya menjadi meningkat pesat ketimbang beberapa dekade sebelumnya. Pada saat yang sama dengan menyatunya dunia menjadi global vilage, maka tidak ada satu sektorpun tak terkecuali sektor kesehatan termasuk didalamnya migrasi dokter-dokter yang demikian mudah dari satu negara ke negara lain.

Keadaan ini mau tidak mau, suka atau tidak suka, sebagai sesama dokter tempat kita tinggal disesaki tenaga profesional yang bernama dokter yang semakin padat. Sudah menjadi rahasia umum, ada sebagian dari sejawat dokter yang senior membuat barier entry terhadap sejawat mereka yang yunior. Dokter juga makhluk ekonomi, mereka tentunya tidak ingin “capture market-nya” berkurang, karena dalam “wilayah operasi” ada tambahan “pedagang” baru. Karena itu Bhisma Murti menyebut mereka sebagai “kartel” yang dengan sengaja menciptakan scarcity sehingga akan mempertahankan harga pasar dengan margin besar yang telah dinikmati.

Perilaku sebagian dokter diatas adalah contoh perilaku yang reaktif dalam menghadapi perubahan sedang berlangsung di sekitar kita. Daya tahan perilaku yang reaktif, tentu tidak akan bisa dipertahankan dalam waktu yang lama sebagai strategi bersaing dalam jangka panjang. Betapa tidak, mobilitas masyarakat yang demikian tinggi, juga mobilitas dokter “competitor” terutama yang berasal dari luar negeri, semakin tidak terbendung lagi. Peraturan perundang-undangan yang mengatur bagaimana dokter harusnya melakukan praktek haruslah sejalan dengan peraturan yang berlaku dalam dunia global. Karena itu perlulah kiranya dokter-dokter produk dalam negeri ini memikirkan langkah-langkah strategis jangka panjang. Perlu langkah bersama, perlu pencerahan bersama, dan perlu langkah yang melampaui apa yang kita lakukan dan pikirkan hari ini.

Langkah awal dalam memulai langkah strategis ini adalah dokter mulai mendefinisikan lagi siapa mereka, siapa yang mereka layani, bagaimana karakteristik manusia yang mereka layani, bagaimana melakukan pendekatannya, dan bagaimana mengelola sumber daya yang ada dalam melayani konsumen sebaik-baiknya sembari tercapainya dua misi yaitu misi kemanusiaan dan misi memberikan penghidupan yang baik bagi dokter sendiri beserta timnya. Sekalipun bukan yang terbaik, setidaknya apa yang dilakukan oleh Aravind Eye Center setidaknya merupakan pendekatan yang lebih mendekatkan pada visi dan misi ini.

Dokter juga manusia, yang bisa salah dan khilaf. Bisa saja dokter salah dalam mendiagnosis atau memberikan terapi. Mungkin itu jawaban singkat terhadap ramainya tuntutan malpraktek dewasa ini. Tetapi apakah hanya sebatas itu saja. Setidaknya banyak langkah-langkah, metoda-metode atau strategi-strategi yang bisa dilakukan dengan menggunakan praktek berbasis bukti yang bisa diterapkan untuk mengurangi resiko malpraktek tersebut. Pembatasan jumlah tempat praktek yang maksimal di tiga tempat adalah salah satu usaha untuk mengurangi resiko kealpaan dokter dalam mengelola pasien-pasiennya. Disamping ada hikmah lain, pembatasan dokter asing agar tidak praktek juga lebih dari tiga tempat. Karena mereka menuntut aturan yang disamakan dengan dokter produk dalam negeri.

Dokter juga manusia. Dokter juga mempunyai kehidupan pribadi. Dokter juga mempunyai status kesehatan sendiri. Dokter juga manusia. Bisa sakit hati apalagi sakit fisik, punya salah dan punya khilaf. Kemampuan ekonominya juga berbeda-beda antar dokter satu dengan yang lain. Namun dalam kenyataannya, karena dipersepsi oleh masyarakat, orang yang mengerti tentang segala aspek tentang kemanusiaan, maka masyarakat mempunyai banyak pengharapan yang berstandar tinggi. Stereotipe yang berkembang adalah bahwa dokter adalah sosok yang lembut, ramah, mudah menolong, kaya, bermobil, keluarganya baik-baik, terhormat dan tidak pantas dokter melakukan hal-hal yang remeh dan pekerjaan kasar.

Kenyataannya, tidak semua dokter kaya. Tidak semua dokter mempunyai pasien yang banyak. Saya sendiri, tidak mempunyai mobil, dan banyak pasien saya heran dengan penampilan saya kalau bepergian naik sepeda motor. (sst! baru satu tahun lebih saya memakai mobil setelah sepuluh tahun praktik) Bahkan ada pasien mengatakan “dokter bersahaja nggih, biasanya dokter naik mobil, tetapi panjenengan naik sepeda motor dan pakai helm yang mekaten meniko. [pasien tidak berani mengatakan helm yang saya pakai jelek] Ada teman sejawat lain yang pekerjaan sambilan di luar pekerjaan utama di Puskesmas atau Poliklinik rumah sakit, adalah broker mobil. Sehingga ada joke dari staf puskesmas, yang mengatakan sekarang dokter A gelarnya MM. Saya pikir habis saja wisuda mendapatkan gelar MM [magister manajemen], sehingga saya menanyakan, “kuliahnya dimana? dan syukuran wisudanya kapan?” Ternyata MM yang dimaksud adalah Makelar Mobil.

Beberapa waktu yang lalu, teman saya seorang pengacara bercerita ada dokter senior yang baru saja ia urus surat perceraiannya. Sejenak kenyataan ini menyadarkan kembali kepada saya bahwa dokter adalah juga manusia. Mempunyai kehidupan pribadi dan keluarga yang harus dijaga privasinya. Namun ada yang mengganjal dalam hati saya, selama saya praktek walaupun masih lima tahun, sudah lebih dari sepuluh kali saya menerima “curhat” dari pasien yang sedang mengalami broken home. Mulai dari suami atau istrinya selingkuh, jarang pulang rumah, suami berjudi, anak-anak mulai ada yang menjadi peminum dan sebagainya dan sebagainya.

Dokter yang perceraiannya baru diurus oleh teman pengacara tadi adalah senior jauh di atas saya. Mestinya sudah jauh lebih banyak pasangan-pasangan dari pasien-pasiennya yang berkonsultasi mengenai masalah keluarga yang dialami. Ternyata dia sendiri mengalami masalah yang sama dengan yang dialami oleh pasien-pasiennya. Lalu kepada siapakah dokter-dokter berkonsultasi ketika dia mempunyai masalah pribadi? Kepada siapakah dokter-dokter berkonsultasi ketika dia mempunyai masalah kecanduan obat? Kepada siapakah dokter-dokter berkonsultasi ketika dia mempunyai masalah dengan keluarga? Sementara orang-orang di sekitar sudah menganggap dokter berada di posisi atas, sehingga layak sebagai tempat konsultasi. Inilah ironisnya, ketika dokter mempunyai masalah pribadi atau masalah keluarga yang sangat privat, dokter kesulitan menemukan orang, tempat, serta ruang untuk menumpahkan dan mencoba mengurai segala permasalahan yang ada.

Saturday, March 7, 2009

Vampire cina

Aku pernah menjadi dokter jaga UGD di rumah sakit Jiwa selama tiga tahun, sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2002. Waktu itu, aku bekerja sebagai dokter part timer, sehingga selain jam jaga bisa nyambi di tempat lain. Sebagai dokter umum, memang masih belajar banyak hal mengenai penyakit “kegilaan” yang harus dipelajari. Dengan berjalannya waktu dan seiring dengan banyaknya pelatihan yang aku ikutin, perlahan tapi pasti kompetensi yang harus aku miliki sebagai dokter jaga UGD di Rumah Sakit Khusus Sakit Jiwa bisa aku kuasai. Jadi bukan kegilaan yang aku cari, tetapi kegilaan itu untuk mendapatkan penghasilan… hallah bukan itu. Maksudnya kegilaan pasien-pasien RSJ itu adalah suatu hal yang sangat menantang, plus lumayan untuk menopang pendapatan. He he he, sama aja.

Iya lho, waktu itu gaji dokter jaga di klinik 24 jam di Solo, uang duduk per delapan jam hanya 5000 rupiah plus 1000 rupiah per pasien, plus sekian ribu bila tindakan seperti menjahit kulit robek, khitan dan tindakan minor lainnya, itu pun tidak selalu ada. Nah kalo dari RSJ lumayan untuk menambah tambahan pendapatan sehingga bisa setara dengan jumlah gaji dokter PTT waktu itu yang hanya Rp. 500 ribu sebulan. Susah ya jadi dokter, sudah sekolah susah, ternyata gajinya cuman segitu. Itulah salah satu alasan mengapa aku harus nulis buku “Doctors Market Yourselves!” jadi dokter kalo mengandalkan gaji susah, apalagi tuntutan hidup jaman sekarang plus waspada tuntutan malpraktik! Kasihan ya jadi dokter… hiks hiks hiks

Kembali ke RSJ, walopun di RSJ sendiri, sebenarnya satu dua pasien merupakan kiriman dari departemen sosial alias gelandangan di jalan yang dirazia, dan banyak pula pasien yang ngemplang, tapi ga tahu ya gimana caranya manajemen kok masih bisa menggaji saya sebagai dokter jaga kontrak tahunan, seperti diriku ini. Mungkin itu hikmah dari suka nolongin orang, selalu ada rizki yang tidak dinyana-nyana.

Waktu itu siang jam 13.30, berarti masih ada waktu setengah jam untuk perjalanan menuju Rumah Sakit Jiwa Surakarta. Dengan mengendarai sepeda motor prima tahun 90, sepeda motor milik mertua yang telah berubah jadi milikku dan istri juga, aku berangkat bekerja untuk menunaikan kewajibanku yang harus jaga pada shift siang. Kayak satpam, dokter juga ada shift kerjanya. Kalo shift siang, berarti mulai kerja dari jam 14.00 sampai jam 21.00, shift malam mulai kerja dari jam 21.00 sampai jam 7.00 pagi. Kalo shift pagi mulai jam 7.00 pagi sampai dengan 14.00 siang. Jaket yang aku pakai kerja juga milik istri, harap maklum aku ini anaknya petani yang rumahnya dijual untuk menjadikan tiga anaknya menjadi dokter dan dua lainnya menjadi insinyur. Sehingga bagi diriku waktu itu, sedikit sekali dan hampir tidak ada investasi untuk membeli jaket ato pakaian-pakaian bagus untuk meningkatkan citra diri dalam penampilan. Jaket itu berwarna hijau daun. Memakai kaca mata silinder (kaca mata silinder ini juga terbeli setelah dua tahun menjadi dokter lho) dan memakai helm, aku berangkat kerja. Hallah mas modale opo sampeyan? Niat kok…

OK kembali ke cerita…

Kalo boleh aku buat rute perjalanan dari rumahku sampai ke Rumah Sakit Jiwa Surakarta, begini… dari rumah kontrakan berada di desa Gonilan Kartasura (daerah dekat Universitas Muhamadiyah Surakarta dan Pondok Assalaam) terus ke utara…sampai hotel ken dedes.. terus ke kanan teruuuuusss…. Sampai prempatan Manahan…. Ke kiri…teruuuss terminal…. Terus sampai pertigaan serong ke kiri… menuju RS dr. Oen Kandang Sapi…. Nah… sampai di sini nih, ada sebuah bis jurusan Solo – Tawangmangu. Waktu itu posisiku di belakang bis ini. Kemudian lampu hijau menyala. Biasa kan. Namanya bis kalo jalan pas tanjakan. Pelan jalannya. Nah… aku coba salip dia. Eh… ternyata bisnya ga mau didahului. Permasalahannya ada di sini nih. Saat bis ga mau didahuluin, aku berada tepat di muara berhamburannya asap hitam dalam jumlah yang sangat besar. Ibaratnya aku dengan sepeda motor yang aku kendarai seperti sang pangeran yang menunggang kuda terbang, sedang berjalan di atas awan. Sayangnya aku sekarang tenggelam dalam asap tebal… aku tahan nafas, supaya saluran nafas dan paru-paru tidak menghirup racun yang berjumlah luar biasa besar itu. Akhirnya aku mengalah dan tidak berambisi lagi untuk mendahului bis tadi.

Akhirnya sampai juga di halaman parker RSJ Surakarta. Memarkirkan sepeda motor, dan menuju ruang jaga. Aku heran dengan para perawat yang senyum-senyum melihat kedatanganku.

“mbak, ada apa sih?” tanyaku penuh keheranan

“Masa dokter ga merasa?” gantian perawat RSJ itu menanyain aku juga penuh keheranan… dengan sisa senyum yang masih tersisa di sudut bibirnya

“Ga mbak, memang ada apa sih mbak?” aku juga tambah heran

“jenengan wajahnya jadi lucu… coba dokter lihat cermin… nanti kayak vampire cina!... ha ha ha” perawat itu langsung meledak ketawanya dan diikuti perawat lain. Waduh malu aku

Aku menuju cermin yang didepannya ada westafel…

Dan …. Aku terkejut dengan diriku sendiri

Ternyata kelopak mataku kehitaman, jadi asap solar bis tadi berputar-putar mengitari sebelah dalam …. Kalo lihat ini memang seperti vampire cina…. Yang ikut hitam lain, lubang hidung juga hitam… ini ketahuan saat ngupil… hallah..

Thursday, January 31, 2008

Tattoonya “my Ghost”

Banyudono adalah nama kecamatan di Boyolali. Di sana ada daerah yang dibangun oleh departemen sosial… tempat tinggal penampungan gelandangan dan orang terlantar (PGOT). Semua yang disana tidak ada satupun yang asli penduduk sana, semuanya adalah pendatang, dan semuanya berprofesi sebagai tukang ngamen, pemulung, dan pengemis di jalan. Ada juga yang jadi pengemis di ATM dekat UMS. Sehingga ada guyonannya...."Pen-denda ATM" dua orang yang mangkal di sana.

Sebuah perumahan satu blok atau lebih tepatnya satu RT (rukun tetangga) Pertama kali saya masuk di sana, memang tidak terlintas suasana kumuh, bersih, rumah tipe 15 – 20 alias kamar-kamar yang jadi rumah, tetapi karena dekat sekali atau dapat dikatakan mepet dengan percabangan sungai yang telah melewati perumahan. Aroma tidak sedap samar-samar tercium… mengisi atmosfir pemukiman itu.

Aliran sungai turun terjal tepat di belakang perumahan itu, sehingga suara-suara gerojogan air….merusak keheningan di malam hari, dan menjadi suara latar riuh rendah anak-anak yang bermain dan suara dentingan alat-alat dapur ibu yang memasak di siang hari.

Ketika bercakap-cakap langsung dengan mereka satu persatu, baru tampak bahwa mereka yang tinggal disana bukan tipe kebanyakan orang yang kita jumpai setiap hari di sekeliling kita.

Nama-nama mereka pun banyak yang tidak asli dan aneh…

Genjik (anak babi),

Mentik,

Muntu (Uleg-uleg = alat untuk menggiling sambel),

Gareng,

Gondes,

Kampret,

Klowor,

Codot,

Sotil….

sampai ada satu nama yang menurutku sangat aneh Tri Da Ko Can.

Kalo nama perempuan relative normal

“Bu Katmi, setiap hari pekerjaannya apa bu?” tanya saya

“Ya mangkal di Manahan, ngamen” kata bu Katmi

Saya pernah menjumpai seorang remaja umur 16 – 17 tahun menggendong bayi dan ternyata itu adalah anaknya sendiri.

Ada lagi bencong yang suka ngamen… kalo di sana, dia itu benar-benar laki-laki tulen… nama aslinya.. Basuki!

Wujud fisik apalagi, bentuk bentuk yang lazim. Saya baru tahu namanya tattoo letaknya di dahi.. ya ketika bertemu dengan mereka.. Tulisan tato di dahi pun juga tidak lazim “my ghost”. Jangan tanya masalah bau, jelas mereka itu bau. Sepertiga wanita adalah perokok. Masalah penyakit kulit sudah sangat lazim, gatal-gatal hampir dijumpai di setiap orang apalagi anak-anak. Kebiasaan minum minuman keras sudah menjadi ritual rutin harian… tetapi banyak pula yang sudah tobat tidak minum-minuman keras lagi.

Pak Jimin, yang jadi pak RT, adalah mantan peminum berat. Parkinsonisme atau orang jawa bilang buyuten.. tangan bergetar-getar adalah jejak yang tak dapat dihilangkan bahwa dia pernah menjadi peminum berat.


Kalau saya dan teman-teman PPAP (Pemberdayaan Perempuan dan Anak jalanan Perkotaan) SEROJA atau KAPAS (Keluarga Pengamen Surakarta) melakukan baksos, saya sangat berdisiplin tinggi dan memberikan pengawasan ekstra terhadap suntikan dan spuit. Saya tidak mau spuit itu disalahgunakan.

Di sektor-sektor lain daerah binaan SEROJA dan KAPAS seperti bantaran sungai, Nusukan.. daerahnya kumuh, banyak becek-becek bau, lalat bukan menjadi barang yang asing, anjing-anjing berseliweran di sana-sini.. ada salah seorang teman sejawat dokter, memang dia tipe orang yang selalu menjaga kebersihan, setiap pulang dari daerah seperti itu, semua yang menempel di tubuhnya segera masuk cucian…

Sekedar pengumuman SEROJA pernah dikunjungi oleh menteri pemberdayaan perempuan lho…ibu Meutia Hasan.

Friday, January 18, 2008

Kiamat Anak Kos

“Kalo bepergian jangan direncanakan…kebanyakan rapat malah ga jadi” Kata Slamet, teman kos dulu sewaktu mahasiswa, yang aslinya dari Bayat Klaten. Kalo pengen ngliyat bagaimana profil orang ndeso yang bener-bener ndeso… inilah dia orangnya…nDEso ABIz, walopun statusnya mahasiswa!!! Sorry ya Met.. jero banged.

“Kita mau pergi kemana?” tanya Yanuar

“Kita ke Tawangmangu yuk.. terus ke Sarangan… ke Ngawi..terus pulang” Usul Hendra

“OK ayo kita berangkat sekarang” ajak Herman.

Akhirnya “rapat” selesai, bubar… masing-masing orang berbenah diri. Dasar anak kos yang cuek. Semuanya pergi pakek sandal jepit.

Weng huweng…weng weng….. sepeda motor dipecut menuju Tawangmangu..

Wah nekat benar… hanya ngobrol-ngobrol… jadi beneran..

Wuss … subhanallah perjalanan yang menyenangkan. Piknik dadakan. Naik turun gunung..

Yang mampir di Tawangmangu atau di Sarangan ga usah diceritain.. ceritanya sama dengan wisata-wisata yang lain aja..

Yang heboh… yang ini niich..

Sudah sangat siang… jam 14.00 belum makan… intir-intir perut nih udah luappaaar banget..

Akhirnya mampir di rumah makan yang sederhana…. Maklum anak kos cari yang murah porsi besar… efektif dan efisien… standarnya rumah makan supir truk. Lawuhe tenanan (Lauknya sungguh-sungguh)……ukuran jumbo, harga manbo.

Duduk-duduk nunggu pesenan makan selesai…

Nah kebiasaan buruk anak-anak kos mulai lagi.

“Eh di Bayat ada rumah makan kayak begini ga?” kata Yanuar

Ada… menunya tempe penyet..tapi menyetnya pake kaki” kata Hendra

“Wakkakkkak akkkakkkakaak” derai tawa mengurai deras, sederas hujan yang sangat lebat. Dasar anak-anak kos laki-laki…kasar banged guyonannya.

………………………..

Menu makanan yang dipesan sudah dihantarkan dan siap dikerjain, maksudnya sudah terhidang dihadapan masing-masing orang.

Nyam nyam glek

Nyam nyam… glek

Sruut glek

Makan selesai….

………………………………….

Masuk seorang pemuda umur 35 tahun, wajahnya memang lucu, kulit hitam untuk ukuran orang Indonesia, rambut keriting…..

Penyakit tukang komentar anak-anak kos kambuh lagi

“Ssst… ada orang Bayat lewat…” kata Herman

“Wikiikkkikkkikkkikkk” Hendra, Herman, dan Yanuar terkikik-kikik ketawanya

“Apa… orang pitak?” tanya Dodik

“Wikikkkikkiiikkikkk” kali ini yang cekikikan tambah meluas… dan mengundang yang lain.. ikut memandangi pemuda yang barusan lewat mau masuk.

…………………………..

Ternyata….

Pemuda tadi GR

Dia merasa dihina…dan diejek..

Tak disangka dia mendatangi Herman, Hendra dan Yanuar

“Kamu tadi ngomong apa?” bentak pemuda tadi

“……” Herman, Hendra, dan Yanuar tidak menjawab, hanya memberi isyarat tangan kalo mereka bertiga minta maaf…

“Ga kok mas … maaf” Yanuar akhirnya berani ngomong

“Awas ya kalian….” Pemuda itu menuding-nuding, kemudian bergerak ke belakang, menuju tumpukan jaket dan helm yang kami pake, mengawut-awut jaket, melempar helm,

Dan….

Dia mengambil dua botol minuman bersoda Fanta dan Sprite

Prooook dusss

Botol itu pecah, pecahannya… untungnya yang kecil mengenai kulit atas daun telinga kiri Hendro… darah merembes keluar..mengalir di pipi… seperti air mata tapi berwarna merah..

“Bubaaar !!!!” teriak pemuda tadi

……………………………………

Slamet yang jadi “korban” guyonan, segera mengambil langkah cerdik, dia mengeluarkan uang lima puluh ribu tiga lembar, memberikan kepada pemilik warung…

“Bu… ini uang untuk bayar semuanya ya bu… ga usah dihitung yang penting biar tidak ada keributan di warung ini… kalo kelebihan kembaliannya saya ikhlaskan, tapi kalo kurang mohon diikhlaskan ya bu” kata Slamet

“Iya mas… ayo mas cepat-cepat berkemasnya” kata ibu pemilik warung

Meskipun dalam suasana mencekam, ternyata anak-anak kos itu masih terampil menangkap helm dan jaket yang dilempar pemuda yang ngamuk tadi…

Segera anak-anak kos itu berkemas menuju parkiran sepeda motor dan segera memecut sepeda motornya melanjutkan perjalanan kembali.ke Solo…

Wahhhahh legaaaaaa

Masih untung pemuda tadi bersama dengan anak dan istrinya. Tampak istrinya berusaha menenangkan suaminya agar tidak mengamuk…

Perjalanan spontanitas yang berakhir dengan KIAMAT ANAK KOS

……………………………….

Terlalu kompak, terlalu berlebihan bercanda… memang akhirnya tidak baik. Karena itu perlu control diri sebelum berubah menjadi bencana. Seperti pada kasus di atas berubah menjadi KIAMAT ANAK KOS.

Adapted from my true story…

Saturday, July 7, 2007

Dapat Janda

Sebelumnya minta maaf absen kelamaan sedang suiiibuuuk banget banyak target.... nah sekarang kembali bercerita....................
________________________________________________________________

Bagi anak laki-laki, momok terbesar dalam hidupnya adalah KHITAN

Yang terbayang adalah..

Sakit..

Jarum

Gunting

Pisau..

Hiiiiii ngeri banget deh.

…………………………………..

Akhirnya aku memutuskan berani disunat. Pulang dari sholat jum’at langsung dibawa bapak ke calak (tukang sunat).

Bismilahirahmaanirrohiim

Cekiiiiiiit… jarum suntik menembus pangkal titit

“auw” sakit sedikit

…………

“Sakit ga mas?” tanya calak itu padaku. Kelihatannya dia memencet kulit titit dengan pinset.

“ga pak” jawabku

Beberapa saat kemudian

Krês…krês….krêss…

Waduuuh ngeri banget dengerinnya.

…………..

“Udah selesai mas” kata calak

……………………..

Cenut-cenuuut…cenut-cenuuut, waduuuh nyerinya berdenyut-denyut.

Semalaman ga bisa tidur.. tetapi ditemani dengan setia oleh rasa nyeri yang berdenyut-denyut itu.. posisi apapun tidak nyaman untuk tidur. Miring, berbaring… dan jangan harap bisa posisi tengkurap… dijamin ga bisa dan ga berani…...akhirnya pagi tiba..

Bapak mencoba melihat tititku yang udah pake “koteka” perban…. Kayaknya beliau ngeri ngeliyat bentuknya..

“Ke dokter Maya ya Yus” kata bapak

(dokter Maya adalah langganan keluargaku kalo kami sekeluarga sakit)

……………………………………………………….

Nunggu empat antrian pasien…

“anak Yusuf Alam Romadhon” kata petugas administrasi

“Ya bu” kata bapak, kemudian aku dan bapak memasuki kamar periksa. Dan waduh dokternya wanita.

Ada apa ini mas Yusuf?” tanya bu dokter Maya

“Ini bu dokter, kemarin habis sunat di Calak… Oleh calak, pagi hari ini saya disuruh membuka perban. Saya ngeri ga berani membuka perban, minta tolong dokter Maya untuk membukakan. Dan mohon advis untuk pengobatannya sekalian. Maaf dokter” kata bapak.

“Mas Yusuf..berbaring di sana ya..” dokter Maya meminta aku berbaring

Berbaring.. buka sarung…malu sebenarnya membuka rahasia titit kepada wanita.. walopun diri ini masih anak-anak kelas tiga SD.

Tangan bu dokter Maya yang lembut menyentuh titit dan..

“krêk krêkk krêk” suara retakan perban lepas dari kulit dan..

Darah mengucur..

“ternyata sama calak tidak dijahit… di bawa ke OK saja ya..” kata bu dokter Maya

……………………………………..

Aku dibawa ke OK digendong bapak.. dalam keadaan terbuka..sehingga titit yang pake "koteka" terlihat jelas oleh siapa saja yang berpapasan. Malu karena aku bukan termasuk ekshibionis yang suka memamerkan tititnya di depan umum. Benar-benar pameran titit. Dan perasaan yang lebih dahsyat bergejolak waktu itu adalah mau diapain di OK ya? Dan benar..

Aku diperkosa oleh empat orang yang memegang erat-erat kedua tangan dan kedua kaki, di tengahnya pas menghadap tititku kayaknya seorang dokter..

Krêk krêkk krêk krêk krêkk krêk … suara retakan perban yang lepas dari kulit… diikuti rasa nyeri huebbaaat..terhuebaaaaat yang pernah aku alami. Dan..

“huaaaaa huaaaaaa huaaaaa” aku menjerit, menangis sekuat-kuatnya.. hingga bapakku sendiri pingsan, ditolong oleh perawat yang ada. Wah ada dua pasien sekaligus, aku dan partai tambahan bapakku sekarang jadi pasien.

Tidak nyeri? Berhenti?

“Mas Kalo disunat nangis..nanti kalo menikah dapat Janda lho…makanya jangan nangis” kata dokter yang bertindak sebagai operator yang ngetet-ngetet tititku.

“Mendengar kata-kata kalo menikah dapat janda… dan diberitahu agar jangan nangis aku berusaha berhenti nangisnya.

Tetapi ketika tindakan ngetet-ngetet dimulai ya ga bisa ditahan nangis, berontak, dan teriak-teriak sekuat tenaga.

Akhirnya selesai setelah satu jam berlalu. Sudah cukup membuat kelelahan.

Kemudian aku baru diberitahu, kalo luka bekas pemotongan preputiumnya ga dijahit, sehingga harus dibuat luka lagi, baru dijahit…

………………………..

Sunat ternyata menegangkan plus ancaman dapat janda. Pembaca mungkin penasaran, akhirnya aku menikah dengan siapa ya?

……………………..

Aku menikah dengan gadis perawan. Jadi ga benar mitos kalo sunat nangis nanti kalo nikah dapat janda.

…………………..

Kedua adikku (Tamrin dan Yamin) akhirnya kalo sunat tidak lewat calak tapi ke perawat bedah.. tidak mengalami sunat ulang seperti diriku. Tetapi untuk Tamrin, habis sunat malah main badminton.. akhirnya bekas luka sunatnya BENGKAK, bentuknya seperti kikil sapi tapi ukuran jumbo. Keduanya sunat ga pake nangis…so.. menikahnya juga dapat gadis perawan.

Monday, June 18, 2007

Seratus persen kosong

Di depan gedung Taman Budaya Surakarta (TBS) ada warung makan kelas Pedagang Kaki Lima (PKL). Sebut saja Ayam Goreng Pak Bejo. Warung ini laris. Karena harga murah, rasa enak, dan porsi besar. Pas untuk ukuran kantong uang dan kantong perut mahasiswa. Maklum mereka masih minta kiriman dan baru saja menyelesaikan masa pertumbuhannya. Jadi sisa-sisa masa pertumbuhan masih berlangsung yaitu makan dalam porsi besar. Kalo orang jawa bilang makannya “sumego” alias banyak nasinya.

Ada satu nilai tambah yang membuat para laki-laki mahasiswa itu gandrung menyambangi warung pak Bejo yaitu anak pak Bejo yang cantik jelita. Dasar laki-laki!

Sebut saja namanya Endar. Dia siswi kelas 3 SMA swasta. Kalo sore, dia ikut membantu orang tuanya melayani para mas mas mahasiswa yang konon kabarnya di dunia orang kampung manis-manis. Walopun banyak sekali yang rata-rata bahkan di bawah rata-rata.

KAUM LAKI-LAKI ITU GA ADA YANG JELEK, SEMUANYA TAMPAN. Ada yang tampan sekali. Ada yang agak tampan. Ada yang lumayan tampan. Ada yang kurang tampan. Dan ada yang tidak tampan. Bahkan ada pula yang ga tampan blass!!! Yang penting kan ada tampannya. He he he he.

Kembali ke cerita…

Disamping warung PKL pak Bejo ada gudang…ga tahu gudang apa isinya. Yang jelas gudang itu kalo pas jam tayang warung PKL pak Bejo selalu tertutup. Ketika zaman reformasi, gudang itu agar aman dari jarahan masa, sengaja diberi tulisan dari cat minyak berwarna putih kontras dengan warna dasar pintu hijau daun tua besar-besar, bunyinya……100% KOSONG… dengan harapan para penjarah tidak masuk ke gudang itu. Dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan gudang itu aman dari jarahan masa di bulan Mei 1998.

Di suatu sore, seperti biasa…segerombolan pemuda mahasiswa…kelihatannya satu kos. Mereka akrab sekali.

“Met gimana kamu belum punya pasangan…kamu katrowk banget sih” ledek Yanuar kepada temannya yang bernama Slamet.

“Kamu belum tahu..sih, aku datang ke sini dalam proses PDKT” elak Slamet.

“PDKT sama Endar..maksudmu?” tanya Udin.

“Sssst… kamu sudah tahu…kalo Endar itu sudah ada yang punya!” timpal Heri meyakinkan.

“Kalian salah semua….Endar itu belum ada yang punya!” bentak Slamet dengan suara yang masih normal, sehingga tidak terdengar keluar komunitas mereka.

“Lho…kamu tahunya dari mana?” kembali Yanuar meledek.

“Itu…kalian bisa baca kan…. SERATUS PERSEN KOSONG!” kata Slamet dengan mimik serius..dengan telunjuk tangan kanannya menunjuk pada pintu gudang yang bertuliskan 100% KOSONG.

GLODAK!

Baddalaaa tenaan!!!

“Wakakakakakakakakkaakkk” derai tawa meledak bersama-sama seperti semburan pasir yang memburai dari sumber mata air yang sangat deras.

……………………………………………

Mengetahui keadaan sebenarnya adalah sebuah seni atau bisa dikatakan sebuah intuisi. Karena kita terbiasa dididik secara analitis. Sering kali mind set pikiran kita menjadi terpola, bahwa segala sesuatu bisa dianalisis dan kita pasti bisa membuat keputusan-keputusan. Harus ada data-data yang lengkap dan complicated untuk membuat sebuah keputusan yang excellent. Dalam dunia kedokteran, untuk menentukan adanya sepsis (infeksi kuman yang tersebar merata di seluruh pembuluh darah, harus dilakukan kultur, untuk memastikan terjadinya sepsis oleh bakteri tertentu misalnya). Dan metoda kultur ini membutuhkan waktu 24 jam. Sementara pasien dalam keadaan kritis.

Atau adanya appendicitis (radang usus buntu) yang mengalami komplikasi abses juga harus dibantu dengan alat USG. Dan kenyataannya harus menunggu waktu mendapatkan hasil rujukan dokter radiology. Atau di daerah terpencil, USG cuman satu, yang membutuhkan banyak sekali. Sementara kekhawatiran komplikasi berkejaran dengan waktu agar tidak menyebar dan bertambah berat.

Ternyata…..

Ketika saya Co-Ass dulu, seorang dokter ahli bedah digestive yang senior..

“Ini Suf…kamu raba..kamu rasakan ujung jarimu… terasa lunak kan” kata dokter ahli bedah digestive senior tersebut kepada saya saat memeriksa pasien yang sedang disiapkan untuk operasi appendektomi.

Saya pun mengikuti apa yang beliau lakukan.. ujung jari telunjuk…meraba dan sedikit memberikan tekanan pada titik Mc Burney (titik tempat usus buntu berada).

“???” perasaan sama saja tuh, dengan permukaan kulit yang lain.

……………………………….

“Ini Suf kamu rasakan lagi… beda kan dengan kondisi pak Mitro… yang ini lebih keras..ga ada komplikasi abses” kata beliau lagi saat memeriksa pasien di bed yang lain.

“???” lagi-lagi aku ga bisa membedakan….

………………………………..

Beliau itu sekolah dokter umum 6 tahun, spesialis bedah 4 tahun dan mengambil sub spesialis bedah digestive 3 tahun. Jadi bisa dikatakan jam terbangnya sangat tinggi. Sehingga intuisinya sudah jalan. Bahkan ujung jari telunjuknya sudah memiliki sensor yang sangat tajam… sebanding dengan kualitas USG. Pola “perlunakan” sudah terdeteksi oleh ujung jarinya sebelum USG terbaca oleh teman sejawatnya yang ahli radiology.

Ketajaman pengenalan pola “perlunakan” beliau sangat membantu teman-teman sejawat yang ahli bedah yang minim alat bantu diagnostic bahkan seringkali sudah rusak dan belum dapat pengganti yang baru terutama di daerah.

Saya hanya bisa berkata LUAR BIASA untuk ketajaman dan “jam terbang” beliau.

Ketajaman menebak yang terbangun oleh “jam terbang” yang sangat jauh berbeda dengan ketajaman asal-asalan punyanya Slamet.

Friday, June 15, 2007

Kampanye biologis

Yudo.. mahasiswa dari Jakarta kos di Solo. Hobinya suka ngedengerin lagu-lagu tapi dengan volume yang membuat telinga bisa pecah… Eh bukan ini ding yang mau diceritain..

Kemarin bapak Kos itu datang ke tempat kos nyariin dia.

“Mas Yudo ada di sini sekarang?” tanyak Bapak Kos.

Karena datangnya siang-siang, jadi banyak dari anak kos yang sudah pergi ke kampus. Aku barusan pulang, coz habis pretes dan aku inhal alias ga lulus, sehingga harus ngikutin praktikum minggu depan khusus untuk para residivis inhaler kayak diriku ini. Dulu ketika pertama kali inhal, waduuh rasanya dunia mau kiamat.. malu.. tapi sekarang inhal lima kali, muka sudah tebal… mungkin karena kebanyakan makan sayur rebung. Sayur rebung? Iya… dia adalah cikal bakal pohon bambu. Lha pohon bambu adalah bahan dasar untuk membuat gêdhég (anyam-anyaman bambu untuk dinding rumah tradisional). Ada ungkapan dalam bahasa Jawa “rai gedheg”, artinya tidak tahu malu.

Jadi karena kebanyakan sayur rebung… membuat keadaan diriku seperti rai gedheg alias ga tahu malu walopun inhal lima kali. Hallah..

Kembali ke cerita..

“Wah…mas Yudo-nya sedang kuliah itu..” jawab saya kepada bapak kos

“Tapi masih tetap tinggal di sini kan?” tanya bapak kos kembali

“Masih kok pak… nuwun sewu.. ada masalah apa tho pak kok nanya masih tinggal di sini?” tanyaku

“Ini… ortunya sudah tiga kali nilfun dari Jakarta… kayaknya sih cross check apa bener Yudo udah bayar kos?... lha terus saya bilang belum, udah nunggak tiga bulan ini… ortunya kaget minta ampun.. mungkin mas Yusuf tahu kira-kira penyebabnya” kata bapak Kos

“Mmhmm ada hubungannya ga ya dengan yang ini… kemarin dia baru cerita kalo habis beli parfum seharga satu juta rupiah… ya saya maklum-maklum aja… dia cerita bapaknya kaya… jadi ya saya menganggap ga ada yang aneh” kata saya

“Parfum satu juta rupiah? Untuk anak kos?” bapak kos tampak terheran-heran..

“Ya pak… wah parfumnya Yudo menurut pengakuannya sangat ampuh… untuk membuat wanita jadi tergila-gila pak” kataku

“Katanya… lagi… walopun Yudo udah berjalan sepuluhan meter… wanita-wanita yang dia lewati… dari kejauhan wajahnya masih menunjukkan kegairahan pak” kataku lagi.

……………………………………………

Parfum untuk menggaet wanita ato lawan jenis… aku lebih senang menyebutnya alat kampanye biologis. Kita juga makhluk biologis juga.. ada daya tarik dengan lawan jenis lantaran aroma tubuh.

Kalo ngeliyat kambing birahi ato dan yang sebangsanya.. mereka asyik mencium-cium bau dari lawan jenisnya.. bahkan ketika si betina kencing pun si jantan mendekati dan menciumi baunya.. dan habis itu menyengir-nyengir hingga giginya kelihatan… trus bilang: hek hek…. hek hek… hek hek….

Manusia sebenarnya mirip-mirip dengan perilaku hewan tadi hanya lebih nyeni… lebih “romantis” dan pakek gaya….

Udah ga usah diterusin….lebih lanjut

Yang penting ada kampanye biologis dulu…

Kalo dokter kampanye biologisnya adalah memberikan sentuhan saat memeriksa, ato teknik menyuntik yang katanya orang-orang..

“Suntik ke dokter Pujo aja.. nyuntiknya ga sakit.. kayak ga disuntik..bener”

“Anak saya kalo sudah disentuh dokter Henry langsung turun panasnya”

“Kalo sudah masuk ruangannya dokter Aryo, ketemu orangnya melihat dia tersenyum saya langsung sembuh… aneh ya”

Mungkin inilah namanya kampanye biologis dokter

Thursday, June 7, 2007

“Anu”

Menyenangkan sekali bisa menikmati sholat di masjid yang bisa berdiri dan saya bisa andil dalam pembangunannya….. namanya masjid Sabilillah belakang pas kos-kosan saya dulu ketika mahasiswa.

Ikut andil mendirikan berarti harus ikut pula andil dalam memakmurkannya, termasuk dalam kegiatan bulan suci romadhon. Semua anak kos yang aktif sholat jamaah di masjid mendapat bagian sebagai mubaligh dadakan alias petugas kultum (kepanjangan dari kuliah terserah antum… he he he).

Saya termasuk orang yang ga pernah tampil ke publik apalagi memberikan tausiyah walaupun hanya sekedar lima menit plus dua.

Skenario sudah disiapkan secara matang… membaca-baca buku agama, mengolah, berlatih tapi dalam skenario mental di otak mengenai track-track yang nanti akan dilalui..

Rupanya memikirkan skenario di otak tidak lekas bisa tenang dan konsentrasi ketika sholat… maklum harus sholat Isya’ dulu baru acara yang dinanti-nanti tiba… menjalani track-track yang akan dilalui dan disampaikan dalam lisan.

Biasanya kalo sholat Isya sendiri ato berjamaah berlangsung terlalu cepat…. Kadang-kadang tidak sadar kalo perjalanan sholat Isya sudah memasuki rokaat ke tiga.. tetapi kali ini… rokaat demi rokaat yang dilalui demikian mendebarkan… pikiran terkonsentrasi pada denyut jantung yang makin lama makin cepat dan terasa sekali denyutannya… ato orang biasa menyimpulkan saya ini sedang deg-degan menunggu akan tiba waktu itu.

Dan……akhirnya tiba harus mulai mengatakan di depan publik ..

“Anu”….

“Eh… Anu”

“ha ha aa ha wakakakakak” gemuruh suara anak-anak..dan sebagian teman kos tertunduk malu.. tapi sebagian kelihatan senyum-senyum.. tapi risau.. menunggu kelancaranku bisa ngomong..

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh” kataku…akhirnya keluar juga kata-kata yang tertib.

….dst………….. walopun satu dua kali masih terselip kata…

“Anu”

Waktu lima menit plus dua terasa sangat jauuuuuuhh… dan… menegangkan

Sekarang sudah lebih dari sepuluh tahun setelah peristiwa itu… walaupun masih sering muncul rasa berdebar-debar ketika akan mengisi kajian ato ceramah… tetapi jauh lebih lancar dari peristiwa yang menegangkan dan memalukan itu…

………………………………….

Dalam buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman, mengunkapkan sebuah data.. bahwa pemain-pemain olah raga yang prestasinya sampai tingkat dunia… mereka sudah berlatih secara serius olah raga yang mereka geluti sejak umur enam tahun.. tetapi mereka yang unggul hanya sebatas tingkat nasional berlatih serius olah raga yang mereka geluti sejak usia lebih lanjut biasanya kelas enam SD dan seterusnya apalagi kalo cuman juara RT… baru berlatih seminggu yang lalu… he he he

David Beckham mengenal latihan intensif bola sejak umur enam tahun, demikian juga dengan juara dunia catur, dan juara-juara dunia lainnya. Bahkan Imam Syafii, ahli Fiqh yang fatwa fiqhnya dipake oleh mayoritas muslim Indonesia, hafidz Al-Qur’an umur tujuh tahun. Demikian juga dengan ulama-ulama yang usianya abadi melebihi usia fisik, sudah terpapar dini dengan ilmu agama konsistensi dalam penerapan ilmu agama itu sejak dini usia….

……………………………

Berceramah, mengemudi, dokter bisa mendiagnosis, dokter bisa melakukan tindakan operasi canggih dengan terampil adalah salah satu bentuk refleks yang terbentuk dengan latihan.. semakin tinggi “jam terbang” latihannya maka semakin terampil refleks itu terbentuk…

Contoh yang paling nyata mengenai hal ini dan banyak dijumpai dalam sehari-hari adalah mengemudikan / menyopir mobil… pekerjaannya demikian kompleks… melihat, merespons dengan menginjak pedal rem, pedal gas dan pedal kopling… bila manual harus mengubah status persnelling secara akurat.. semuanya berlangsung dalam hitungan detik… bahkan kita bisa mengemudikan mobil sambil kita memikirkan bagaimana skenario pelunasan utang-utang. Inilah contoh refleks komplek yang dipelajari..

Dokter bedah yang mengoperasi pasiennya…dengan efisien sudah menjadi refleks tanpa berpikir lagi karena dia sekolah di kedokteran enam tahun, kemudian sekolah lagi bedah 7 semester, dan kalo mendalami lebih lanjut, seperti ahli bedah tulang ato ortopedi menambah keahlian yang sangat spesifik seperti mendalami tulang belakang atau ahli lutut dengan sekolah lagi selama tiga tahun….. total dari SMA untuk mendapatkan keahlian seperti itu membutuhkan waktu lebih dari dua belas tahun…

Sama seperti David Beckham, Casparov, Rudi Hartono, Icuk Sugiarto… butuh waktu dua belasan tahun lebih untuk mencapai kompetensi seorang juara dunia.

Jadi kesimpulannya :

Kalo anda ingin menjadi orang yang sangat ahli dalam suatu bidang, baik ilmuwan, olah ragawan, usahawan dan bahkan penipu ulung yang sangat lihai… bersabarlah dan siapkan mental tahan banting Anda untuk menempa keahlian itu minimal DUA BELAS TAHUN… !!!

Kebersamaan yang Indah Kita

Daisypath Anniversary Years Ticker

hanya bisa mengucapkan...

zwani.com myspace graphic comments