my map

https://www.google.co.id/maps/@-7.5532988,110.7662994,189m/data=!3m1!1e3!4m2!5m1!1b1?hl=id
Showing posts with label asal njeplak. Show all posts
Showing posts with label asal njeplak. Show all posts

Tuesday, December 7, 2010

What Happen in Arab?

Alhamdulillah di penghujung tahun 2010 ini bisa merasakan pergi di luar negeri di Saudi Arabia

pada foto di bawah ini mo nunjukin tampang masih utuh..


Nah ini baru "penampakan" setelah berubah


Ini zoom lebih detil pertumbuhan rambut setelah 24 - 48 jam... cepet ya..



Selanjutnya mo menunjukkan sebagian dari What happen in Arab?

Mac Donald kalau di Arab menjadi Makdunaldz



Rokok ternyata tetap ada tetapi TERBATAS HANYA UNTUK DEWASA!!!




Tidak lupa menampilkan kandungan dan risiko bila merokok



Beberapa produk versi arab "Bibsi"



"Seven Up"



"Kuka Kula"



Yang menarik Plat Nomor mobil ada "hologram" seperti ijazah di negara kita...

Saturday, July 3, 2010

the un-perfect world

Saat kita masih kanak-kanak.... dunia ini begitu mengasyikkan..
karena keinginan kita sederhana... dan mudah terpenuhi...
dan hati kita masih bersih.. kita masih jujur dengan diri kita sendiri



ada banyak hal dalam hidup kita yang sering kali di luar kebiasaan.. tetapi ini sangat unik
namun ini adalah sebuah keasyikan tersendiri yang tidak terkira



saat mengenang kebahagiaan itu... dan kita hadirkan kembali rasa itu.. oh..
memang benar seperti apa yang dikatakan oleh Imam Al-Ghozali
sesungguhnya yang paling jauh itu adalah masa lalu kita...



Nah... sekarang marilah kita menghadapi the real life
kehidupan nyata kita sekarang ini....



semoga sukses..dan selalu dipenuhi barokah dalam kehidupan kita... amin

Tuesday, June 22, 2010

Dokter Dalam Kartun

"Membalik telapak tangan bukan perkara yang mudah"

Kalo ini kisah istri saya yang juga dokter (dr. Yuni Prastyo Kurniati) ... saat patah tulang kedua tangan dalam keadaan hamil 6 bulan akibat menabrak kambing.... saat seperti ini tidak berlaku pepatah yang mengatakan "ah mudah kok seperti membalikkan telapak tangan saja..." bagi istri saya membalikkan telapak tangan perlu latihan selama enam bulan... ck ck ck




"Setiap orang memang punya kelebihan"

memang benar seperti yang diungkapkan dalam gambar di bawah... "dokter mempunyai kelebihan obat dan resep... sedangkan pasien mempunyai kelebihan penyakit dan penderitaan!"



"Suatu perkara yang tidak diserahkan pada ahlinya, maka akan tinggal menunggu kehancurannya"

Ini adalah kisah nyata kakak saya yang spesialis THT (dr Faiz SpTHT KL). Pasca lulus spesialis THT, beliau harus mengubah papan nama yang ada di tempat praktiknya menjadi dr Faiz Sp THT - KL, artinya dokter spesialis Telinga Hidung Tenggorok - Kepala Leher (tanpa otak dan gigi dan mulut). Karena tidak sabar menunggu kedatangan pak tukang, akhirnya dipasang sendirilah papan nama itu. Dan hasilnya terjatuh berakibat tulang tempurung patah dan beberapa tendo di lutut putus... butuh operasi 4 jam untuk mereposisi lutut, termasuk enam bulan pemulihan....




"Sudah Jatuh Sakit Tertimpa Tangga Rekening Tagihan Pula"

saya tidak bisa berkata-kata apa-apa mengenai hal ini...



Mudah-mudahan menghibur....

Friday, June 4, 2010

“Ternyata wellcome drink itu wedang jahe ya”

Suatu ketika saya ada kesempatan acara dinas menginap di sebuah kota yang terletak di pegunungan. Saat memasuki hotel itu kami serombongan disambut dengan ramah oleh pelayan dan resepsionis hotel. Mungkin karena mengusung konsep Islami, saat kedatangan kami di malam hari, pelayan dan resepsionis yang menyambut kami adalah cowok semuanya. Kemudian disuguhi pula minuman wellcome drink, sebagai penyambut sekaligus membina suasana hangat dan memberikan pengalaman “wow” bagi kami sebagai customer hotel tersebut. Dan benar, bagi kami suguhan ini sebagai pengalaman yang luar biasa. Suasana dingin karena dekat pegunungan, diberikan minuman hangat yang luar biasa. Saat mencicipi, sempat bingung dengan aroma dan rasa dari minuman hangat tersebut. Yang jelas terasa manis, menghangatkan tubuh dan ada sensasi “pedas mentol” atau “semriwing” di tenggorokan yang dapat mengencerkan dahak. Terus terang sekilas rasanya seperti jahe, tetapi tidak pedas, saya menganggapnya rasa jahe. Beberapa saat kemudian, setelah meletakkan barang-barang bawaan, kami duduk-duduk dan menikmati kehangatan minuman wellcome drink sembari menunggu kelengkapan administrasi untuk menginap di hotel tersebut. Teman sejawat kami yang sangat senior tiba-tiba datang mendekat kepada sebagian kami yang hampir sebaya usianya dengan saya. Beliau mengatakan kepada kami, “ternyata wellcome drink itu wedang jahe ya”. Spontan kami tidak bisa menahan ketawa menanggapi kelucuan yang diungkapkan oleh senior kami. Meledaklah suara tawa kami secara lepas bersama-sama.

“ha ha ha ha ha”

Ada-ada saja beliau ini membuat humor. Kemudian kami hanyut dalam pikiran kami sendiri-sendiri.

Sambil duduk-duduk menyendiri di sudut hotel, dengan menikmati wellcome drink yang ternyata adalah wedang jahe... eh bukan wedang jahe lebih tepatnya adalah wedang sereh.. pikiran saya melambung menembus bangunan yang tepat di depan hotel sebuah gelanggang olah raga. Saya teringat pengalaman teman yang kebetulan sebagai konsultan dan sering “PY” alias “payu” alias “laku”. Dan pelanggan yang sering memanfaatkan jasanya adalah pemerintah daerah di seluruh nusantara. Jadi dapat dikatakan beliau konsultan ini, jarang ada di rumah. Seperti layaknya selebritis yang “manggung” di mana-mana.

Ada pengalaman menarik dari beliau konsultan ini saat “manggung” di propinsi Papua. Sebagai orang asing datang di suatu daerah yang asing tentu sangat banyak tempat yang tidak diketahuinya. Karena itu sebagai andalannya untuk mencari alamat adalah seperti dalam peribahasa “malu bertanya sesat di jalan”. Ternyata ada peribahasa lain yang berlaku saat berada di propinsi Papua tersebut yaitu “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain durian”, kondisi yang dijumpai benar-benar berbeda. Dengan santainya sang konsultan ini menanyai orang yang dijumpai di jalan. Setelah jelas informasi alamat yang dimaksud sang konsultan ini mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah memberikan informasi. Di luar dugaan, orang ini mengatakan, “terima kasihnya saya terima, tapi uang informasinya mana pak?”

“lho ada uang informasi?”

“Iya pak, Anda boleh pergi dengan selamat setelah membayar uang informasi!”

“berapa uang informasi yang harus saya bayar?”

“biasanya turis-turis itu ngasih saya seratus ribu”

“apa? seratus ribu?”

“gimana? masih ingin pergi dengan selamat kan?”

“kalau saya bayar lima puluh ribu pak?”

“ya sudah, mana uangnya?”

Sang konsultan merogoh uang yang ada dikantong bajunya, dan memberikan uang lima puluh ribu kepada orang itu.

Wah ternyata, kalau begitu, besok lagi sebelum menanyakan informasi alamat kepada orang asing yang baru dijumpai di wilayah ini harus melakukan tawar-menawar harga dulu, baru menanyakan alamat yang diinginkan.

Tersadar dari lamunan, saya pun mencoba menghubungkan antara humor yang didemonstrasikan oleh senior saya dengan peristiwa yang dihadapi oleh teman saya yang seorang konsultan keuangan. Bisa jadi orang asli papua ketika ditanyai turis pertama kalinya dan mendapatkan uang dari turis penanya, sama kondisinya seperti humor senior saya (bila dianggap sungguhan). Wellcome drink = wedang jahe ada hubungannya dengan turis yang nanya = imbalan uang. Hallah.

Monday, February 15, 2010

Kalau ingin bahagia jangan menjadi dokter

Profesi dokter bukan pilihan yang tepat untuk mencari kebahagiaan

Dalam sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan jumlah fakultas kedokteran begitu cepat melebihi beberapa dekade sebelumnya. Di tahun 2004 saja, baru ada 45-an fakultas kedokteran negeri maupun swasta. Di tahun 2010 ini, jumlahnya bertambah hingga mencapai 72 fakultas kedokteran. Alasan rasional pertambahan jumlah fakultas kedokteran adalah jumlah dokter umum di Indonesia masih kurang untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Kebutuhan dokter yang ideal adalah setiap 2500 penduduk butuh satu dokter umum. Dari kebutuhan dokter umum 80.000 orang, saat ini baru terpenuhi 50.000 orang dokter umum. Kita masih membutuhkan tambahan 30.000 dokter umum. Lulusan dokter per tahun hanya 5.000 orang. Jadi dapat dikatakan profesi dokter masih menjanjikan secara finansial di masa depan.

Ternyata antara alasan normatif dengan alasan realitas berbeda. Alasan normatif sudah disebutkan di atas, memang kenyataannya jumlah dokter masih kurang. Walaupun ada masalah yang jauh lebih besar ketimbang sekedar masih kurang, yaitu distribusi dokter yang tidak merata di seluruh tanah air. Dapat dikatakan lebih dari saparoh dokter di Indonesia tinggal di pulau Jawa dan daerah perkotaan. Alasan yang lebih realistis dan berada di benak lulusan SMA dan orang tua calon mahasiswa berbiara lain.

Kenyataannya motivasi sebagian besar lulusan SMA dan tentu saja orang tua mereka, adalah masa depan dokter tetap menjanjikan di masa depan. Seandainya ngelamar kerja tidak diterima di mana-mana pun, tetap masih bisa mandiri dengan membuka praktik. Banyak dokter yang mereka lihat secara ekonomi mapan, mobil mewah, rumah megah, uang berlimpah, dan mempunyai status sosial yang jauh lebih baik ketimbang kebanyakan orang. Walaupun ada sebagian orang tua yang mengatakan “Kan dokter peluang ibadahnya lebih banyak. Menolong banyak orang dan bisa kaya”.

Saya pun bertanya dalam hati, apakah tidak ada cara lain yang peluang ibadanya lebih banyak, menolong banyak orang dan bisa kaya? Apakah hanya menjadi dokter yang bisa mengantarkan seseorang bisa menjadi seperti itu? Kan tidak. Banyak ustadz yang bisa menolong banyak orang, peluang ibadah lebih banyak dan banyak di antara mereka yang kaya. Banyak pengusaha yang bisa menolong banyak orang dengan memberikan pekerjaan, peluang ibadah lebih banyak karena mereka bisa mengatur waktu secara mandiri dan tentu saja mereka kaya. Kenapa ga rame-rame pengen jadi pengusaha aja? Nah kena lho....

Yah semuanya dikembalikan kepada selera. Saya tahu itu, ada orang yang suka makan makanan yang pedas, ada orang yang suka makan durian, ada juga yang suka makan pete atau jengkol, namun ada pula yang membenci semua makanan itu malah dia sangat menyukai makanan laut.

Tetapi yang harus diperhatikan dan diingat, tidak ada keputusan di dunia ini yang bebas dari risiko dan konsekuensi. Orang yang suka makan pedas punya risiko sakit maag dan sakit perut. Orang yang suka makan durian beresiko bisa naik kadar kolesterol darahnya. Orang yang suka makan pete dan jengkol punya risiko dibenci banyak orang ketika buang air kecil, karena baunya sangat menyengat. Orang yang suka makan makanan laut punya risiko alergi. Demikian juga ketika kita memilih suatu profesi tempat kita mencari penghidupan semuanya tidak bebas dengan risiko. Jadi pengusaha... OK mempunyai peluang semua yang kita inginkan bisa terbeli karena harta berlimpah, tetapi juga punya risiko bangkrut dan meninggalkan bahkan mewarisi hutang yang bisa ditanggung tujuh turunan. Woow ngeriii..

Jadi ustadz, punya peluang beribadah yang banyak, bisa menolong banyak orang, dan bisa kaya... juga punya risiko “tidak bebas” karena semua perbuatan yang dilakukan akan “dimonitor terus” setiap saat dan setiap waktu oleh jamaah, media dan tentu saja Sang Maha Pencipta. Bila sedikit saja tergelincir akan mudah dicaci dan dicemooh serta dicampakkan begitu saja oleh konstituennya. Wah wah...berat juga ya..

Memilih profesi dokter apalagi... hiii ngeriiii... kayaknya risiko yang dihadapi dokter adalah gabungan antara risiko pengusaha dan risiko ustadz. Risiko pertama seperti pengusaha bisa meninggalkan utang tujuh turunan... lantaran dituntut malpraktik oleh pasien dan dituntut mengganti rugi atas kerugian material, kehilangan nyawa dan kehilangan penghidupan klien. Kalau tidak mampu membayar ya... masuk penjara. Risiko kedua, konsekuensi dari risiko pertama yaitu akan mudah dicaci dan dicemooh serta dicampakkan begitu saja oleh konstituen yang sebelumnya sangat memujinya. Inilah mungkin yang dialami oleh RS Omni Internasional tempat kasus terjadinya Prita. Setelah meledaknya kasus Prita, mendadak RS itu sepi, di facebook jadi barang cemoohan dan umpatan-umpatan liar, dan sudah melupakan jasa-jasa baik yang telah dipersembahkan kepada masyarakat selama bertahun-tahun sejak berdirinya. Menjadi dokter harus bersiap-siap mempunyai banyak atasan mulai atasan dalam arti yang sesungguhnya, atasan anggota dewan (karena kalo pas anggota dewan ini tidak puas dengan layanan kita bisa mengungkapkannya kepada kepala dinas atau media), atasan kolegium dokter sendiri, atasan departemen kesehatan, dan atasan masyarakat yang bebas mengutarakan pendapatnya kepada siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Semuanya menyuruh dokter harus seperti itu, harus seperti ini, jangan begitu, jangan begini, kalau tidak begini kamu akan begitu, kalau tidak begitu kamu akan begini yang sering kali satu sama lain saling bertentangan, dan semuanya berakibat memojokkan posisi sang dokter....

Waduh ribet banget ya. Capek deh

Kalo begitu ga usah ada orang yang mau jadi dokter yah. Apa kata dunia?

Sebenarnya saya tidak tega untuk mengutarakan pikiran picik seperti di atas. Kalau berpikiran seperti itu, setiap orang punya risiko karena telah hidup di dunia ini. Membaca berita kecelakaan mulai dari pejalan kaki, pengendara sepeda, pengendara sepeda motor, dan pengendara serta penumpang mobil, berarti semua orang punya risiko. Berarti ga usah keluar dari rumah ya. Tetapi kalau lihat berita di media, orang yang tinggal di rumah bisa mati tertimpa rumah yang runtuh lantaran gempa, tertimpa pesawat jatuh.... hiii ngeri... lalu mau ke mana lagi?

Ini juga konsekuensi dari kita punya perasaan dan emosi. Rasa takut, sisi positifnya adalah kita lebih waspada dan berhati-hati. Tetapi kalau kita lihat sisi negatifnya ya...akan menjadi penyakit yang biasa dikenal dengan gangguan kecemasan. Serba tersiksa karena takut yang terus-menerus memenjara pikiran dan hatinya. Seorang teman spesialis bedah pernah bercerita, beliau bekerja di rumah sakit pemerintah. Menurut penuturan beliau, “kalau bekerja di rumah sakit pemerintah, pengadaan jarum baru biasanya agak susah, sehingga seringkali mendapati jarum untuk menjahit sudah agak tumpul. Akibatnya agak susah saat menjahit, tetapi untungnya pasien dalam keadaan tidak sadar. Permasalahannya terletak pada keselamatan bekerja dokter. Setidaknya dokter yang melakukan operasi tertusuk jarum macam begitu enam bulan sekali.” Saya bertanya pada beliau “apa tidak takut tertular HIV atau hepatitis dan semacamnya dok?” Beliau dengan santai dan tenang menjawab, “Ya ini risiko pekerjaan. Kalau kita memikirkan dampak negatif kita tidak bekerja. Plus kita berdoa semoga Allah SWT selalu memberikan keselamatan dan kesehatan dan selalu berkhusnudzan.”

Karena itu, kalau sudah mantap dengan pilihan dokter sebagai profesi, hendaklah bekerja dengan hati-hati, dan penuh dengan keseriusan. Berbuat sebanyak mungkin kebaikan dengan ketulusan mengharap ridho Allah SWT melalui profesi yang telah dipilih dan ditekuni, semoga dengan itu Allah SWT memberikan keberuntungan dan kemuliaan. Karena tidak ada Zat yang bisa memberikan kemuliaan, mencabut kemuliaan dan menggantinya dengan kehinaan kecuali Allah SWT. Tidak ada niat yang bisa mengantarkan seseorang kepada kemuliaan selain berharap mendapatkan ridho-Nya.

Wallahua’lam

Saturday, October 10, 2009

Care bangsa kita yang memprihatinkan

Care atau peduli sesama, tampaknya mulai luntur dalam budaya kontemporer kita dewasa ini. Beberapa yang lalu saat hari raya kemarin, kami sekeluarga istirahat di suatu rumah makan, pada saat jam makan siang dan jam sholat dzuhur. Kami memesan makanan, sembari menunggu, kami sekeluarga berbagi, ada yang menunggu dan ada yang sholat. Ketika saya menunggu bersama mas Rizqi, di meja makan kami sudah mulai penuh makanan yang kami pesan..... eee nylonong seorang ibu dengan santainya mengambil kursi di samping saya tanpa minta izin atau permisi... terus saya bilang ke dia "maaf bu ini kursi sudah dipesan dan orangnya masih sholat" kemudian saya menunjuk kursi kosong yang bisa beliau ambil... eee orangnya pergi tanpa sepatah kata apa pun. Kejadian ini berulang sampai tiga kali......

Saya jadi teringat kisah berikut:

Suatu ketika Ubaidah bin Shamit menerima hadiah, dan beliau memiliki keluarga sebanyak 12 orang. Kemudian sahabat Ubaidah berkata, pergilah kalian dengan hadiah ini kepada keluarga fulan, karena mereka lebih membutuhkan hadiah ini daripada saya. Kemudian Wahid bin Ubadah membawa hadiah ini kepada keluarga lain. Akan tetapi, ketika ia telah sampai pada keluarga tersebut, mereka mengatakan hal yang sama. Begitu seterusnya, akhirnya hadiah itu kembali pada keluarga Ubadah sebelum waktu subuh. Dalam riwayat lain, khalifah Umar ra, pernah mendapatkan hadiah dari gubernur di Azerbaijan, Utbah bin Farqad. Kemudian utusan itu ditanya oleh khalifah: ”Apakah semua masyarakat di sana menikmati makanan ini?” Utusan itu menjawab : ”Tidak wahai Amirul Mukminin, ini adalah makanan khusus”. Khalifah berkata: ”Bawalah hadiah ini, kembalikan kepada pemiliknya, dan katakan padanya, ’Bertakwalah kepada Allah, kenyangkanlah kaum Muslimin dengan makanan yang engkau makan hingga kenyang.”[1]

Itsar atau altruisme di jaman kita sekarang tampak menjadi suatu barang yang sangat mewah. Dasar dari care terhadap orang lain adalah ketika kita memulai memikirkan orang lain. Kita melepaskan pemenuhan ambisi pribadi, beralih memenuhi kebutuhan dasar orang-orang yang berada di sekitar kita.

Perkembangan sosial teknologi terakhir, menurut Daniel Goleman[2], telah menciptakan cangkang yang membuat seseorang terisolasi dengan lingkungan sosialnya. Headphone, iPod, juga telefon seluler, membuat kita hanya bisa hadir secara fisik di lingkungan sosial kita sendiri-sendiri. Tanpa kita sadari, kita asyik mendengarkan ribuan musik yang siap kita dengarkan lewat iPod atau headphone. Si pendengar iPod asyik dengan penyanyi yang berdengung di telinganya, sementara ia tidak tahu apa yang terjadi di sekitar kehidupan riilnya. Ketika kita bercengkerama secara fisik, tiba-tiba handphone berdering entah itu ada telefon atau SMS, saat itu juga mencabut ”kehadiran” kita di lingkungan fisik, perhatian terbelah ataupun bahkan terabaikan, konsentrasi pada apa yang ada di telinga....hadir yang tidak ”hadir”. Secara sosial kita mengalami korosi. Menjadi kurang care terhadap sesama.



[1] Diambil dari Ahmad Ibrahim Abu Sinn, 1996, Al-Idaarah fil Al-Islam; Edisi Indonesia, Manajemen Syariah, 2006, Penerbit RajaGrafindo Persada, Jakarta

[2] Daniel Goleman, 2006, Social Intelligence, Edisi Indonesia, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, 2007

Kebersamaan yang Indah Kita

Daisypath Anniversary Years Ticker

hanya bisa mengucapkan...

zwani.com myspace graphic comments