my map

https://www.google.co.id/maps/@-7.5532988,110.7662994,189m/data=!3m1!1e3!4m2!5m1!1b1?hl=id
Showing posts with label Kampanye Kesehatan. Show all posts
Showing posts with label Kampanye Kesehatan. Show all posts

Saturday, July 3, 2010

32 Pertanyaan mengenai kesehatan dalam keluarga

Kasih Ibu kepada beta... tak terhingga sepanjang masa... hanya memberi...tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia..

Ternyata memberi saja tidak cukup...tapi harus memberi dengan memiliki ilmu..


Kalau Anda bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan baik, maka Anda tidak usah membaca buku “Menjadi Dokter Pribadi di Rumah Sendiri”

  1. Apa rahasia sebuah masyarakat mampu membuat praktek dokternya tidak laku?
  2. Membuat sekeluarga sehat itu sederhana, murah dan mudah...bagaimana bisa?
  3. Apa sih perencanaan kesehatan berbasis program janin (fetal programme)?
  4. Eh....Anda harus membuat silsilah penyakit di keluarga Anda lho.. buat apa?
  5. Bagaimana komposisi makanan yang sehat dalam menu sehari-hari kita sih?
  6. Sudah tahukah Anda..dosis olah raga yang paling ideal bagi kebugaran tubuh Anda?
  7. Sehat Itu tak ternilai harganya...mau bukti?
  8. Apa yang harus dilakukan saat anak panas?
  9. Apakah di rumah Anda ada kotak P3K? Apa yang harus ada di sana? Bagaimana cara mengelola kotak P3K di rumah?
  10. Ibu sudah tahu jadwal imunisasi anak ibu?
  11. Mengapa anak bisa demam? Apa penyebabnya? Bagaimana cara menangani dengan baik?
  12. Apa yang harus bapak / ibu ketahui ketika akan membawa anak balita Anda bepergian?
  13. Ibu sudah tahu apakah anak ibu tumbuh kembangnya normal?
  14. Pernahkan balita Anda mengalami ruam popok? Apa yang harus Anda lakukan?
  15. Lansia itu sama dengan 7 B! Apaan tuh?
  16. Bila saat tengah malam ada anggota keluarga yang sakit perut...apa yang bisa diberikan dengan benar?
  17. Mengapa orang bisa sembelit? Apakah kotoran (feses) saya ini normal atau tidak? Sekarang pun Anda akan bisa tahu feses yang normal atau mengalami kelainan!
  18. Orang jawa bilang bila anak diare katanya adalah petanda bagus...tahu kah Anda bila diare tidak tertangani dengan baik akan mengancam jiwa. Bagaimana menghadapi anak diare dengan benar di rumah?
  19. Apa yang harus Anda lakukan ketika ada orang yang pingsan?
  20. Aha... sering kan lihat orang kerokan? Apa dan bagaimana sih kerokan itu? Bagaimana secara medis mengenai kerokan itu?
  21. Sering menjumpai mimisan kan? Bagaimana cara memberikan pertolongan dengan benar pada orang yang mimisan itu?
  22. Pusing atau sakit kepala adalah masalah yang biasa dihadapi...tahu kah Anda ada sebagian pusing yang berakibat fatal bagi keselamatan jiwa seseorang? Apakah itu? Bagaimana memberinya pertolongan pertama?
  23. Sekarang pun Anda bisa tahu.... apakah Anda dalam keadaan stress atau tidak..bagaimana caranya?
  24. Sekarang pun Anda juga bisa tahu.... apakah Anda mempunyai daya tahan yang baik terhadap stress atau tidak...bagaimana caranya?
  25. Kecelakaan di rumah tangga itu bisa dihindari...mau tahu rahasianya?
  26. Apa yang bisa Anda berikan bila ada orang yang mengalami luka bakar?
  27. Apa yang bisa Anda lakukan ketika menjumpai orang yang tersedak parah?
  28. Apa yang bisa Anda lakukan ketika orang yang dekat dengan Anda mengalami Asthma?
  29. Mengapa orang bisa alergi? Apa macamnya alergi? Dan bagaimana cara menghadapinya?
  30. Bagi Anda yang rumahnya dekat dengan persawahan, tentu banyak serangga yang mungkin berbahaya...bagaimana mengantisipasi dan cara menanggulanginya?
  31. Bagaimana cara menggunakan tanaman tradisional di rumah?
  32. Kesehatan adalah amal jamaah? Sudah tahukah ibu mengenai hal ini?
Insya Allah setelah membaca buku ini mampu menjawab 32 pertanyaan tentang kesehatan keluarga di atas... amin

Saturday, June 19, 2010

Buku Ini Sudah Ada di Jaringan Gramedia di Seluruh Indonesia

Tanggal 19 Juni kemarin saya sekeluarga menikmati waktu luang di Toko Buku Gramedia Solo Square... seperti kebiasaan saya selalu mencari buku yang aneh.. akhirnya ketemu buku superfreakonomics.. sekuele buku freakonomics... tema utama hampir sama menyajikan data statistic kejadian yang di luar perhatian kita.. sebenarnya hampir mirip dengan bukunya Malcolm Gladwell mulai dari tipping point, blink, outlier dan what the dog saw..

akhirnya beli juga deh buku superfreakonomics.. eh saat mampir di rak buku kesehatan... eh hmm nemu buku sendiri.. mungkin pembaca yang mengikuti blog saya... pasti masih ingat beberapa waktu yang lalu saya memostingkan insy 1 bulan lagi buku saya ada di jaringan toko buku Gramedia.... ternyata buku ini sudah ada di rak...

mohon doa restunya ya.. semoga bisa mencerahkan sebanyak orang setelah membeli dan membaca buku ini... amin

yang ini halaman muka dan belakang



kalo yang ini halaman muka




kalo yang ini halaman belakangnya



prinsipnya saya ingin menggugah pembaca.. bahwa kita itu bisa merencanakan kesehatan kita, memberikan tips-tips pertolongan pertama termasuk bagaimana mengelola kota P3K di rumah, menghadapi penyakit-penyakit yang umum dijumpai bahkan juga ada tips pertolongan pertama pada kecelakaan di rumah... dan buku ini ditutup.. dengan PESAN RAHASIA.. untuk ramai-ramai membuat praktik dokter tidak laku... Penasaran kan... hayo sekarang ke toko buku Gramedia... dibaca bukunya ya..

Monday, February 15, 2010

Perbanyak orang sehat sedikitkan orang sakit

“Program kesehatan” antar orang berbeda-beda

Pada tahun 1990-an, tiga kota di Inggris Hertfordshire, Preston dan Sheffield menjadi kota yang penting dan mengundang minat yang luar biasa dari para ahli gizi sedunia. Profesor Barker yang mengungkapkan hasil pengamatan penting tersebut dan mengungkapkan sebuah konsep teori penting fetal programe.[1] Inti dari teori ini adalah apa yang terjadi pada anak selama dalam kandungan sangat menentukan “nasib” kesehatannya di kemudian hari.

Hertfordshire, Preston dan Sheffield adalah tiga kota terparah korban pemboman sekutu Nazi dalam perang dunia di Inggris. Akibatnya infrastruktur kota hancur dan rusak parah. Dampak dari rusaknya infrastruktur kota adalah suplai bahan makanan terhambat. Selanjutnya banyak ibu-ibu hamil yang kekurangan makanan, yang berakibat bayi yang dikandung mengalami kekurangan nutrisi selama kehamilan. Pada saat pemboman itu ada ibu hamil masih dalam usia kehamilan trimester pertama, ada yang trimester kedua dan dan ada pula yang trimester ketiga (3 bulan pertama, 3 bulan kedua, dan 3 bulan ketiga). Jadi dapat dikatakan, bersamaan dengan pemulihan distribusi yang memakan waktu sekitar tiga bulan, peristiwa itu berdampak kekurangan gizi pada tiga kelompok; yaitu kekurangan gizi saat hamil trimester pertama, kekurangan gizi pada trimester kedua dan kekurangan gizi pada trimester ketiga.

Yang menarik di Inggris Raya, ternyata walaupun diguncang peperangan, tetapi catatan medis tetap tersimpan dengan sangat baik dan rapi. Sehingga berapa berat badan ibu tiap kontrol mulai hamil hingga melahirkan, berat badan dan panjang badan bayi baru lahir, saat batita, saat balita, masuk TK, masuk SD setiap tahunnya hingga dewasa dan penyakit apa saja yang diderita selama waktu itu terdokumentasi dengan baik sehingga memudahkan penelitian yang dilakukan oleh Profesor Barker.

Secara umum hal luar biasa yang terungkap dari penelitian ini adalah, anak-anak yang dalam kandungan ibunya dalam keadaan kekurangan nutrisi, berakibat ukuran tubuhnya kecil dan berat badan kurang saat lahir, lebih pendek saat pertumbuhan sampai dewasa, setelah dewasa ternyata mengalami penyakit degeneratif seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes melitus, dan penyakit kolesterol lebih dini usianya ketimbang anak-anak yang kecukupan nutrisi saat di dalam perut ibu. Jadi, dapat dikatakan umumnya penyakit degeneratif tadi muncul saat memasuki usia 50 tahun lebih, pada kelompok bayi yang dalam kandungannya menderita kekurangan gizi menderita penyakit dalam usia lebih muda lagi yaitu di usia 40 tahun ke bawah. Lebih lanjut bila dirinci, (dapat dilihat pada gambar)

Trimester kehamilan saat kekurangan nutrisi




Berat lahir

Proporsi tubuh


Berat saat satu tahun


Usia dewasa


Kematian

Trimester pertama

->

Stel ulang pertumbuhan


Kurang

Proporsional kecil

->

Kurang

->

Hipertensi

->

Stroke perdarahan

Trimester kedua

->

Defisiensi insulin

->

Kurang

Kurus

->

Normal

->

Hipertensi

Diabetes melitus

->

Penyakit Jantung Koroner

Trimester ketiga

->

Defisiensi hormon pertumbuhan

->

Normal

Pendek

->

Kurang

->

Hipertensi

Kolesterol LDL naik

Fibrinogen naik

->

Penyakit Jantung koroner

Stroke sumbatan

Gambar . Kekurangan nutrisi saat kehamilan menentukan, bentuk dan ukuran tubuh, pola penyakit saat dewasa dan penyebab kematiannya

Dari gambar di atas, kekurangan nutrisi berakibat tubuh melakukan penyesuaian-penyesuaian, tetapi bersifat permanen dan dibawa terus sampai dewasa dan hingga akhir kehidupannya. Penyesuaian yang permanen ini dalam bentuk ukuran-ukuran jaringan yang lebih kecil, jumlah reseptor hormon insulin lebih sedikit, umpan balik fisiologis yang disesuaikan dengan kondisi kekurangan nutrisi saat dalam kandungan.

Kalau dibuat perumpamaan, seperti pabrik mobil. Pabrik mobil “yang nutrisinya cukup” akan menghasilkan mobil dalam ukuran besar, sampai komponen-komponennya seperti silinder, karburasi, voltage yang dibutuhkan, kapasitas tanki, kapasitas mesin dalam membakar bensin dan sebagainya sesuai “ukuran kebutuhan” bentuk fisiknya yang besar. Kondisi ini akan berbeda dengan pabrik mobil “yang nutrisinya kecil” menghasilkan mobil dengan satu set ukurannya yang berukuran kecil.

Bisa menangkap kan maksud perumpamaan ini?

Yang jadi masalah adalah, ketika mobil yang berukuran kecil ini dalam perjalanan selanjutnya dipaksakan menerima “nutrisi” mobil yang berukuran besar, mobil berukuran kecil ini akan “tenggelam” dalam kelebihan bensin dan oli, sehingga mesin mobil kecil ini jadi cepat rusak.

Kondisi inilah yang mirip terjadi dengan bayi-bayi yang mengalami kekurangan nutrisi dalam kandungan, tetapi dalam perjalanan hidup selanjutnya mengalami kemakmuran. Tubuhnya akan “tenggelam” dalam kelebihan nutrisi, jauh melebihi kapasitas kemampuan kerja sel tubuh untuk merubah nutrisi menjadi kerja dan membuat tubuh mengalami pertumbuhan dan perkembangan serta penggantian sel-sel yang rusak. Akibatnya masa kemunduran (degenerasi) berjalan lebih cepat.

Karena itu dalam konteks Indonesia, mereka yang dalam kandungan ibu mengalami kekurangan nutrisi serius, seperti dijumpai pada orang-orang yang lahir pada zaman revolusi kemerdekaan (1945 – 1948) atau zaman pemberontakan G 30 S PKI (1965) dan zaman reformasi (1997/1998), dijumpai saat lahir kecil dan kurus maka akan rentan mengalami penyakit degeneratif dini yaitu pada usia 40 – 50 tahun. Pencegahannya adalah mengusahakan agar pola nutrisi mendekati seperti dalam kandungan ibu, karena mereka sel-sel tubuh beserta fungsinya di-stel untuk keadaan kekurangan nutrisi. Jauh lebih hati-hati mereka yang lahir dengan ukuran dan berat kecil dalam pengelolaan dietnya ketimbang mereka yang lahir dengan ukuran dan berat badan yang normal.

Jadi untuk kepentingan perencanaan kesehatan, salah satu faktor yang harus menjadi dasar pertimbangan adalah melihat kembali bagaimana ukuran tubuh kita saat lahir dulu yang mencerminkan “progam kesehatan” yang ditakdirkan untuk kita di kemudian hari. Baiknya kita menanya-nanya bagaimana kondisi kesehatan ibu kita saat mengandung diri kita. Dari sana, kita menata ulang pola makan dan kerja kita sebisa mungkin kita tata mendekati pola kondisi saat kita dalam kandungan dulu.

Perbanyak orang sehat sedikitkan orang sakit hanya bisa dihasilkan secara berjamaah

Memperbanyak orang sehat dan menyedikitkan orang sakit tidak bisa ditangani sendiri oleh dokter beserta kru profesional kesehatan lainnya. Sebagai contoh, teman saya seorang dokter kepala puskesmas di daerah perkebunan teh. Beliau bercerita kepada saya, banyak pekerja teh yang mengalami patah tulang karena kecelakaan saat menuruni tanah yang terjal dan licin. Dapat dikatakan bahwa pekerjaan pemetik daun teh mempunyai risiko patah tulang. “Lalu adakah cara untuk menguranginya?” tanya saya padanya. “Sebenarnya ada, membuat undak-undakan yang landai pada daerah-daerah strategis yang sering terjadi kecelakaan” jawab beliau. “Apakah puskesmas bisa membuat itu bu?” tanya saya padanya. “Tentu tidak” jawabnya spontan. “Lalu?” saya bertanya. “Bisanya kita hanya ‘memprovokasi’ camat, lurah dan warga untuk mewujudkannya” jelas beliau.

Sementara itu di puskesmas lainnya yang agak perkotaan, dimana angka kejadian demam berdarah di tempatnya termasuk tinggi. Demam berdarah memang bukan penyakit asli orang Indonesia. Ia diimpor bersama nyamuk pembawa (vektor) dari Afrika tepatnya daerah sekitar Mesir. Nama ilmiah nyamuk vektor Aedes Aegypti mencerminkan nama aslinya Egypt = mesir. Terbawa ke Indonesia bersama dengan kapal-kapal yang singgah di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Kejadian demam berdarah pertama kali muncul di kota pelabuhan itu. Yang menjadi permasalahan selanjutnya adalah, kebersihan antara orang yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Ada yang disiplin dalam membersihkan dan merapikan rumahnya, sementara itu sebagian yang lain malas dalam bersih-bersih terutama daerah kos-kosan. Karenanya sering dijumpai obat panu dari berbagai merek di kamar-kamar kos tersebut. Akibatnya, walaupun sebagian orang sudah berusaha dengan maksimal pemukimannya bersih dari sarang nyamuk, terbukti dari pemantauan jentik dinyatakan bebas jentik, tetapi tetangga sebelahnya yang jorok adalah produsen terbesar nyamuk aedes aegypti. Selanjutnya virus dengue sebagai penyebab demam berdarah dan virus Chikungunya yang bersarang di dalam tubuh nyamuk itu dengan leluasa berterbangan “menebar pesona” yang menakutkan bagi kesehatan dan keselamatan jiwa warga dalam satu blok pemukiman yang masih dalam jangkauan terbang sang nyamuk ini. Jadi mewujudkan lingkungan yang sehat adalah tanggung jawab setiap orang, bukan orang lain.

Seorang dokter umum, teman sejawat yang juga berprofesi sebagai dosen, pernah bercerita bahwa dalam penelitiannya, pekerja yang bekerja di bagian mesin ternyata lebih berisiko menderita gangguan tuli dan angka perceraiannya relatif lebih tinggi ketimbang bagian lainnya seperti administrasi maupun customer service. Usut punya usut ternyata tingkat kebisingan di bagian mesin ini melebihi 80 dB. Sambil bercanda, beliau mengatakan “kayaknya penyebab perceraian adalah dampak suara bising dalam jangka panjang mengakibatkan impotensi disamping ketulian yang permanen”. Lagi-lagi menunjukkan fakta kepada kita bahwa banyak panyakit yang sebenarnya banyak dihindari. Pada kasus tuli permanen ini, sebenarnya pengusaha tidak saja mementingkan uang yang dihasilkan dari pabriknya, tetapi juga memikirkan kesehatan dan kesejahteraan batin para pekerja, dengan menganggarkan peredam suara mesin, sehingga orang bisa bekerja dengan nyaman dan dalam jangka panjang memberikan kesehatan yang optimal.

Satu lagi contoh bahwa banyak penyakit sebenarnya bisa dicegah dan tidak bisa diselesaikan oleh dokter dan kru profesional kesehatan saja, tetapi butuh melibatkan pihak lain untuk menyelesaikan masalah tersebut. Suatu ketika dalam waktu satu minggu di dalam waktu yang berbeda, saya kedatangan lima orang dengan penyakit yang sama yaitu sakit panu atau dalam bahasa medis tinea versicolor. Satu pertanyaan saya yang jawaban mereka sama, padahal mereka tidak bersamaan memeriksakan penyakitnya kepada saya, “bapak kerja di tempat yang panas hingga berkeringat banyak?” jawab mereka “ya, tempat kerja kami tidak ada ventilasi, atap dan dinding bagian atas dari seng”. Saya mengatakan kepada mereka dengan kalimat yang sama, tetapi waktu dan orang berbeda, “mohon bapak agar meminta kepada pemilik bengkel tempat bapak bekerja agar menyediakan, angin-angin, sehingga panas bisa mengalir bersama mengalirnya udara lewat angin-angin tersebut. Penyebab penyakit bapak adalah karena ventilasi di tempat kerja bapak kurang baik. Keringat berlebihan merupakan faktor yang disukai oleh jamur penyebab penyakit yang diderita bapak. Tidak ada sebab yang lain”.

Beberapa bulan sesudahnya, salah seorang diantara mereka memeriksakan lagi ke tempat praktik saya dengan penyakit yang lain. Saya bertanya, “gimana pak sakit kulitnya sudah sembuh?” “Sudah dok, setelah ventilasi diperbaiki, penyakit jamur kulit yang kami derita itu tidak kambuh lagi”

Alhamdulillah, penyakit sembuh karena kita semua secara berjamaah yang mengatasinya.



[1] Barker, D. J. P.and Clark, P. M.: 1997; Fetal undernutrition and disease in later life; Reviews of Reproduction (1997) 2, 105–112

Dalam sejarah pernah ada suatu masa, dimana dokter tidak laku!

Suatu ketika Rasulullah SAW, pernah dihadiahi seorang dokter oleh gubernur Romawi yang berkuasa di Mesir. Seminggu pertama telah berjalan, dokter ini tidak mempunyai pasien. Dalam benak sang dokter ini, dia menduga mungkin dirinya belum di kenal secara luas di masyarakat Madinah waktu itu. Dia bersabar menunggu waktu barang satu bulan. Ternyata keadaannya sama, hampir dikatakan tidak ada pasien yang datang berobat kepadanya. Sang dokter ini mencoba bersabar lagi siapa tahu setelah satu bulan hingga menginjak bulan ke dua juga menjumpai banyak pasien sebagaimana yang dia alami di daerah-daerah lain sebelumnya ketika melakukan praktik kedokteran. Ternyata juga mengejutkan hampir dikatakan tidak ada pasien yang berobat padanya. Tiga bulan sudah, sang dokter harus banyak menganggur karena tidak ada pekerjaan yang berarti yang dapat dia lakukan sebagai seorang dokter. Bahkan Rasulullah SAW, seorang pemimpin negara Madinah, orang yang beliau “kawal” kesehatannya pun tidak sakit sama sekali dalam masa tiga bulan, waktu yang dibutuhkan sang dokter untuk merasa tersiksa karena mendapatkan “status pengangguran intelektual”.

Apa Rahasianya hingga dokter “tidak laku”?

Mempunyai Perilaku Diet yang Sehat

Hal ini sudah terjawab di akhir masa tugas sang dokter yang bertanya kepada Rasulullah SAW “apa rahasia yang menyebabkan kalian ini suatu kaum yang hampir dikatakan tidak pernah sakit?” kemudian Rasulullah SAW menjawab “kami adalah suatu kaum yang tidak makan sebelum kami lapar dan berhenti makan sebelum kami kenyang”.

Peluang olah raga terbuka sangat lebar bagi setiap orang

Pada waktu itu teknologi transportasi belum secanggih sekarang. Transportasi saat itu yang utama adalah kuda dan unta. Dapat dikatakan dengan keadaan seperti itu kecelakaan relatif sedikit dan tidak sehebat dampaknya seperti yang dialami sekarang. Karena transportasi yang “tidak nyaman” seperti kuda, membuat si pengendara harus “ikut menaik dan menurunkan” badan agar bagian vitalnya tidak “terbentur-bentur” punggung kuda. Berarti orang yang menunggang kuda termasuk berolah-raga. Seperti yang pernah diceritakan seorang teman kepada saya. Kata beliau, menunggang kuda selama satu jam itu sama capeknya dengan olah raga jogging selama satu jam. Dapat dikatakan dengan kondisi masyarakat seperti itu, cukup waktu dan dosis olah raga yang membuat seseorang menjadi bugar dan lebih tanggap dalam menyelesaikan tugas-tugas harian dalam pekerjaan.

Modal sosial yang luar biasa hebatnya.

Cerita berikut menunjukkan betapa modal sosial masyarakat waktu itu demikian spektakuler.

Suatu ketika Ubaidah bin Shamit menerima hadiah, dan beliau memiliki keluarga sebanyak 12 orang. Kemudian sahabat Ubaidah berkata, pergilah kalian dengan hadiah ini kepada keluarga fulan, karena mereka lebih membutuhkan hadiah ini daripada saya. Kemudian Wahid bin Ubadah membawa hadiah ini kepada keluarga lain. Akan tetapi, ketika ia telah sampai pada keluarga tersebut, mereka mengatakan hal yang sama. Begitu seterusnya, akhirnya hadiah itu kembali pada keluarga Ubadah sebelum waktu subuh. Dalam riwayat lain, khalifah Umar ra, pernah mendapatkan hadiah dari gubernur di Azerbaijan, Utbah bin Farqad. Kemudian utusan itu ditanya oleh khalifah: ”Apakah semua masyarakat di sana menikmati makanan ini?” Utusan itu menjawab : ”Tidak wahai Amirul Mukminin, ini adalah makanan khusus”. Khalifah berkata: ”Bawalah hadiah ini, kembalikan kepada pemiliknya, dan katakan padanya, ’Bertakwalah kepada Allah, kenyangkanlah kaum Muslimin dengan makanan yang engkau makan hingga kenyang.”[1]

Apa kaitannya modal sosial dengan kesehatan?

Sejenak kita buka sebentar teori mengenai apa modal sosial itu. Intinya modal sosial tersusun atas tiga atribut modal sosial yaitu, elemen kepercayaan (trust), kemudian jejaring (network) dan yang ketiga adalah norma sosial pertukaran (reciprocity). Rasa percaya (trust) didasari pada sebuah rasa keyakinan bahwa orang lain akan memberikan respons seperti yang diharapkan dan akan bekerja dalam cara yang saling mendukung dan menguntungkan (reciprocity), atau sedikitnya tidak akan berniat membahayakan orang lain. Untuk networking bisa bersifat berbentuk social organization misalnya dalam bentuk kegiatan posyandu, PKK, pengajian dan social network dengan bentuk rumit hubungan antar orang dalam sebuah komunitas. Rumit mencerna ya? Lebih mudahnya saya tampilkan ilustrasi berikut

Sebuah komunitas di Amerika Serikat sebagaimana diceritakan oleh Malcolm Gladwell dalam bukunya Outlier[2] bisa menggambarkan bagaimana modal sosial itu berfungsi. Komunitas yang diceritakan oleh Gladwell ini adalah sebuah kota kecil Roseto yang hampir sebagian besar warganya berasal dari Italia terletak di sebuah perbukitan Pensylvania. Yang menarik mengenai kota Roseto dibandingkan komunitas-komunitas kota lain di Amerika adalah angka kejadian penyakit jantung koroner sangat rendah. Padahal menurut pengamatan Wolf, dokter ahli digestif yang diceritakan Gladwell, perilaku yang ditunjukkan warga Roseto sama dengan perilaku warga kota-kota lain. Proporsi obesitas, perokok berat dan makan dengan komposisi lemak tidak ideal lebih sering dijumpai di kota Roseto ini. Wolf, heran dengan fenomena yang dia amati. Apa yang membedakan Roseto dengan komunitas kota-kota lain di Amerika yang menyebabkan kejadian penyakit jantung koroner sangat rendah?

Rahasianya ada di dalam kota Roseto sendiri! Yaitu modal sosial yang tinggi. Warga Roseto saling berkunjung satu sama lain, berhenti mengobrol dalam bahasa Italia di jalan atau memasak untuk tetangganya di halaman belakang rumahnya. Wolf lebih lanjut mengamati, banyak rumah yang ditinggali tiga generasi keluarga dan sangat hormat kepada para kakek dan nenek. Kota Roseto ini sangat religius, bagaimana gereja benar-benar menjadi pemersatu yang luar biasa. Kota pada tahun pengamatan Wolf ini berpenduduk dua ribu orang mempunyai 22 organisasi sosial. Budaya egaliter sangat mewarnai interaksi sosial antar warga, sehingga orang kaya tidak bernafsu untuk memamerkan kekayaannya bahkan lebih berambisi menolong orang-orang yang tidak mampu. Saat pertama kali melihat komunitas ini, Wolf melihat makanan dimakan orang-orang sebanyak tiga generasi di sebuah rumah, dijumpai berbagai toko kue dan roti, orang berjalan-jalan, duduk di beranda dan bercakap-cakap antara satu dengan yang lain, pabrik pakaian tempat para wanita bekerja sementara para lelaki bekerja di pabrik batu sabak.

Ternyata secara sosial komunitas di zaman Rasulullah SAW di Madinah tidak berbeda jauh dengan apa yang diceritakan Malcolm Gladwell, bahkan itsar (altruisme) yaitu mementingkan orang lain walaupun seseorang ini sangat membutuhkan menjadi hal yang lazim di komunitas kota Madinah. Bila memasak dan aroma masakan tercium sampai tetangga, mereka memperbanyak kuah agar bisa dibagikan. Saling berbagi hadiah dengan tetangga adalah hal lumrah, bahkan sehari lima kali para warga saling bersosialisasi lewat sholat lima waktu. Dapat dikatakan masyarakat Madinah mempunyai modal sosial yang sangat tinggi. Sehingga dapat dikatakan ada dua profesi yang bakal “bangkrut” pada komunitas seperti Madinah, yaitu profesi dokter dan pengacara. Karena “tidak ada” orang yang sakit dan “tidak ada” orang yang saling tuntut, karena masing-masing saling menghargai dan saling mengerti hak dan kewajiban.

Kondisi spiritual yang prima

Tidak dapat dibantah lagi, kondisi spiritual para sahabat dan warga Madinah umumnya saat itu berada dalam kondisi yang sangat prima. Dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri setiap hari selalu melakukan sholat tahajud di luar sholat wajib lima waktu. Banyak berpuasa, banyak berdzikir, dan tawakal mengikuti setiap urusan yang sudah diusakan secara maksimal. Dan saat ini telah terkumpul banyak bukti yang menghubungkan komitmen pada nilai-nilai spiritual dengan baiknya status kesehatan.



[1] Diambil dari Ahmad Ibrahim Abu Sinn, 1996, Al-Idaarah fil Al-Islam; Edisi Indonesia, Manajemen Syariah, 2006, Penerbit RajaGrafindo Persada, Jakarta

[2] Malcolm Gladwell; 2009; Outliers The Story of Success; edisi Indonesia Outliers Rahasia di Balik Sukses, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Kebersamaan yang Indah Kita

Daisypath Anniversary Years Ticker

hanya bisa mengucapkan...

zwani.com myspace graphic comments