my map

https://www.google.co.id/maps/@-7.5532988,110.7662994,189m/data=!3m1!1e3!4m2!5m1!1b1?hl=id

Sunday, September 7, 2008

Renungan Romadhon 1429 H

Lima belas menit yang bermakna

Daniel Goleman di bukunya Emotional Intelligence yang fenomenal itu, memaparkan sebuah penelitian pada sekelompok anak-anak usia pra sekolah. Kepada sekelompok anak-anak ini, peneliti membagikan satu biji makanan kecil semacam gula-gula, sembari mengatakan, “kalian boleh memakan gula-gula ini, tapi kalian hanya mendapatkan satu ini saja. Tetapi kalau kalian bisa bersabar, menunggu saya, kalian memperoleh tambahan satu gula-gula lagi”.

Ternyata respons anak-anak itu terbagi menjadi dua, pertama, ada yang langsung saja memakan satu gula-gula itu, dengan konsekuensi tidak mendapatkan gula-gula selanjutnya. Yang kedua, ada yang bersabar menunggu datangnya sang peneliti, dan mendapatkan dua gula-gula. Sekedar diketahui, jeda waktu antara peneliti pergi meninggalkan sekelompok anak ini, hingga datang lagi, hanya berjarak lima belas menit.

Yang mengejutkan adalah, bukan lamanya waktu lima belas menit itu, tetapi, setelah diikuti selama lebih dari lima belas sampai dua puluh tahun sesudahnya, terdapat perbedaan menyolok pada kedua kelompok anak tadi. Kelompok anak yang bersabar menunggu lima belas menit untuk mendapatkan tambahan satu gula-gula ternyata, prestasi akademis, perolehan karier, kebahagiaan dalam kehidupan dan rumah tangganya, lebih baik dan lebih bahagia ketimbang kelompok anak-anak yang tidak bersabar menunggu lima belas menit tadi.

Pembaca yang budiman, sebagai muslim/muslimah kita ditarbiyah oleh Allah SWT di bulan mulia ini, dengan bercermin dari hasil penelitian di atas, sangat dan sangatlah kita bersyukur diberikan sarana tarbiyah dengan puasa. Selama berpuasa, kita tidak saja menunggu dan bersabar selama lima belas menit, tetapi lebih dari itu. Masalah waktu jelas lebih lama, mulai subuh hingga maghrib menghabiskan waktu lebih dari dua belas jam menahan rasa lapar dan rasa haus. Untuk mendapatkan kesempurnaan, tidak saja rasa lapar dan rasa haus serta syahwat yang ditahan, tetapi emosi-emosi ringan dan halus, seperti jengkel, keinginan menggunjing, keinginan merendahkan orang, keinginan membicarakan kejelekan orang, hingga menahan amarah bahkan ketika posisi kita dalam keadaan benar pun, tetap harus bersabar.

Mestinya dengan dihadirkannya puasa satu bulan setiap tahunnya, membuat para muslimin dan muslimat jauh lebih berhasil dalam prestasi akademis, prestasi dalam karier, dan jauh lebih bahagia dalam menikmati kehidupan kita saat ini bagaimanapun kondisinya. Lebih mengerti dan memaafkan kelemahan dan kekurangan pasangan kita masing-masing, anak-anak kita, pembantu kita, staf yang menjadi bawahan kita, dan siapa saja yang berinteraksi dengan kita. Dan yang lebih penting lagi membuat kita lebih mempunyai daya tahan banting yang kuat menghadapi tantangan hidup menuju keberhasilan di dunia dan kehidupan abadi di akhirat kelak

Wallahua’lam

1 comment:

Andri Kusuma Harmaya said...

Nasihat yg bagus mas..Aku sendiri merasa kalo kualitas puasaku masih harus ditingkatkan lg..Maw tanya mas..Kalau setan dibelenggu di bulan suci ini,kenapa masih ada saja orang yg berbuat jahat?Makasih atas infonya ya mas.. :)

Kebersamaan yang Indah Kita

Daisypath Anniversary Years Ticker

hanya bisa mengucapkan...

zwani.com myspace graphic comments