my map

https://www.google.co.id/maps/@-7.5532988,110.7662994,189m/data=!3m1!1e3!4m2!5m1!1b1?hl=id

Monday, November 17, 2008

Mawar Berduri

Aku sama sekali tidak pernah menyesali kalau diriku terlahir untuk menjalani kehidupan sebagai dokter. Dan sudah memang seharusnya aku bersyukur atas keadaanku saat ini. Bersyukur itulah yang membuat hidup kita jadi bahagia dan bermakna. Karena bersyukur itu pula lah yang membuat kita mencintai apa saja yang kita miliki, dan menyadari kalau itu adalah karunia dari Sang Maha Pemberi Karunia.

Ketika aku tanyakan kepada satu persatu teman-temanku dokter yang lain apakah mereka pernah menyesali kalau mereka ditakdirkan menjadi dokter? Mereka semua menjawab tidak. Walaupun ada yang menjalaninya dengan kondisi pas-pasan untuk ukuran dokter. Ada dokter umum yang bepergian kemana-mana naik sepeda motor. Kalau yang ini udah biasa. Jangan heran lho ada temanku yang spesialis dokter bedah tidak punya mobil, kemana-mana naik sepeda motor. Ada juga dokter spesialis penyakit dalam mobilnya toyota kijang kotak dan cat mobilnya mulai memudar. Beliau ini lebih banyak naik sepeda motornya ketimbang naik mobil. Ada pula spesialis Jiwa yang kemana-mana naik kendaraan umum. Ada pula yang spesialis anestesi yang juga sama dengan spesialis Jiwa tadi. Tapi tidak sedikit pula spesialis yang mobilnya selalu generasi terbaru dan jumlahnya lebih dari satu.

Mengapa aku harus bertanya apakah menyesal telah menjalani kehidupan menjadi dokter?

Sering orang mengatakan betapa indah menjadi dokter, banyak amalnya, banyak harta, setidaknya sangat jarang dijumpai adanya dokter yang miskin. Kata mulia dan banyak gambaran-gambaran indah lainnya sering dikaitkan dengan sebuah kata untuk menggambarkan profesi pengusaha penyembuhan, dokter.

Sering orang bermimpi punya suami atau istri dokter, punya anak dokter, punya menantu dokter, dan tidak sedikit pula yang bermimpi menjadi dokter. Puluhan hingga ratusan ribu lulusan SMA yang tidak lulus seleksi masuk fakultas kedokteran setiap tahunnya.

Tetapi menjadi dokter, mempunyai beban tanggung jawab yang luar biasa berat. Tuntutan profesinya demikian menghunjam dan mengusik kenyamanan diri. Dan yang tidak kalah hebat adalah resiko pekerjaan yang bisa mengancam kesehatan bahkan nyawa. Bila tidak dengan dasar kematangan emosional yang baik, menjalani profesi dokter mudah mengalami kejenuhan yang sangat dahsyat. Akibatnya tidak sedikit dokter yang sakit jiwa, menjadi pecandu obat dan beberapa diantaranya ada yang bunuh diri dan gila.

Perkembangan terakhir HIV AIDS juga infeksi Hepatitis B, membuat profesi dokter menjadi profesi yang sangat beresiko tertular kedua penyakit yang mematikan itu. Dokter tertusuk jarum yang telah dipakai oleh pasien merupakan kecelakaan yang “biasa” dijumpai pada dokter atau perawat. Teman dokter bedah menceritakan kejadian tertusuk jarum, dia alami dua kali dalam satu tahun terakhir. Kejadian tertusuk jarum yang digunakan melakukan penjahitan luka operasi kemungkinannya semakin besar manakala dia berdinas di rumah sakit pemerintah. Biasa katanya, jarumnya sering mulai tumpul, sudah hal yang lumrah prosedur birokrasi pengajuan jarum baru harus melalui rangkaian birokrasi yang menjengkelkan rumitnya. Jadi dokter bedah atau dokter umum atau perawat yang bertugas di rumah sakit mempunyai resiko kena infeksi nosokomial (infeksi yang terjadi akibat sistem kerja di rumah sakit) sangat tinggi. Dibandingkan populasi umum, dokter bedah dan krunya berada di posisi tertinggi mendapatkan resiko dari jalur ini. Memang seringkali dokter dan krunya dibuat menjadi sama sekali tidak berdaya oleh sistem. Saya sendiri, mengalami tertusuk jarum yang digunakan pasien selama delapan tahun praktik dua kali. Lumayan lebih kecil ketimbang sejawat saya yang dokter bedah. Sebuah penelitian di rumah sakit swasta di Jogja, melaporkan tiga kejadian infeksi nosokomial pada dokter yang bekerja di rumah sakit swasta tersebut selama tiga tahun terakhir. Ketiganya menderita penyakit hepatitis B.

Dokter bedah teman saya ini, setelah saya beritahukan hasil penelitian itu, mengatakan, “Kalau kita menjalani profesi ini karena tidak didasari ibadah, tentu akan berpikir takut dan serba was-was. Saya katakan itulah resiko pekerjaan sebagai dokter bedah. Saya pun tidak bisa menjamin apakah saya bebas hepatitis B atau HIV, na’udzubillah. Itulah resiko dari pekerjaan saya. Sama seperti pekerjaan lain yang mempunyai resiko”

Beberapa waktu yang lalu, seorang sejawat dokter penyakit dalam bercerita kepada saya. Dia pernah merawat seseorang yang dia diagnosis menderita demam tyfoid. Pasien ini sangat spesial, lumayan lama dirawat di rumah sakit hingga dua minggu. Setelah beberapa kali kontrol dan merasa dekat dengan teman sejawat dokter penyakit dalam tadi, pasien mulai mengatakan hal yang sesungguhnya, bahwa dia menderita HIV positif. Mendapatkan kabar seperti itu, teman sejawat dokter penyakit dalam ini memberikan informasi tersebut kepada kolega perawat yang ikut merawat pasien ini. Hampir semuanya panik dan was was, kalau-kalau ada kontak darah, atau semacam jarum tertusuk yang seperti dialami teman sejawat dokter bedah atau saya sendiri. Mereka semua mencoba meyakinkan bahwa tidak ada kecelakaan selama menangani pasien ini. Mengingat dua minggu adalah waktu yang terlalu lama untuk meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan, karena sebelumnya tidak ada “warning”.

Kakak perempuan saya yang telah lulus dokter spesialis paru, mengatakan setiap dia jaga di bagian paru saat sekolah spesialis di RS dr Soetomo, hampir selalu menjumpai pasien dengan HIV positif. Bahkan saat ada dokter muda yang ujian, oleh perawatnya tidak diberitahu kalau pasien yang dia tangani saat ujian adalah penderita HIV positif. Pada saat melakukan pengambilan darah, dokter muda yang berjilbab ini mengalami kecelakaan pekerjaan dokter. Dia tertusuk jarum yang digunakan untuk mengambil darah pasien HIV positif ini. Setelah ujian selesai, hari berikutnya dia baru diberitahu kalau pasien ini ternyata HIV positif. Dokter muda ini langsung syok mendengar kabar ini.

Yah itulah, seperti yang dikatakan teman sejawat saya dokter bedah, resiko pekerjaan. Memang profesi dokter itu seperti bunga mawar yang tampak indah. Tetapi dibalik keindahan itu ternyata banyak duri yang siap sedia untuk menusuk siapa saja yang tidak hati-hati ketika menyentuhnya.

Wallahua’lam

Surakarta 17 November 2008

3 comments:

Andri said...

Apalagi dg adanya UU Praktik Kedokteran..seorang dokter harus senantiasa berhati2 dalam setiap tindakan medis.

Belum lg tuntutan SKP yg harus dikumpulkan untuk sekedar memperpanjang STR..Fiuh..Mungkin hanya senyum pasien sembuh yg bisa membuat mawar tetap bertahan untuk tidak layu. :)

Mr Pinguin said...

Memang profesi seorang dokter merupakan profesi yang mulia. Bayangkan berapa penderitaan yang telah dihilangan.

Setuju dengan saudara Andri, menagtakan dengan adanya UU Pratik Kedokteran, seorang dokter harus lebih hati2 lagi dalam bertindak.

Tapi dengan hati yg bersih, tetap mau belajar ttg kemajuan pengobatan, dan sikap yang low profile insyAllah segalanya akan lancar2 saja.

Semoga para dokter tetap memegang teguh sumpahnya, mengurangi penderitaan sang pasien dari segi apapun yg dapat dia lakukan, dengan tidak berorientasi pada materi semata.

Ingat semua yg kita lakukan pasti bakal dibalas di hadapan-Nya.

rosma said...

sememngnya profesion seorng dokter itu menuntut banyak kesabaran yg tinggi pabila menghadapi pelbagai kerenah manusia yg punya pelbagai ragam..ianya memerlukn komitmen yg tidak berbelah bagi..

Kebersamaan yang Indah Kita

Daisypath Anniversary Years Ticker

hanya bisa mengucapkan...

zwani.com myspace graphic comments